Anak yang tiba-tiba menolak makanan, menutup mulut, memalingkan wajah, atau bahkan menangis ketika disuapi bisa membuat orang tua khawatir.
Kondisi tersebut sering disebut sebagai Gerakan Tutup Mulut (GTM), terutama ketika anak sedang memasuki masa MPASI hingga usia prasekolah.
GTM merupakan istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan perilaku anak yang menolak makan. Kondisi ini termasuk salah satu bentuk feeding difficulty yang cukup sering ditemukan pada anak.
Meski begitu, anak yang mengalami GTM tidak selalu berarti sedang mengalami masalah kesehatan serius. Ada berbagai faktor yang dapat membuat anak kehilangan selera makan atau menolak makanan.
Cara Menghadapi GTM
Melansir dari laman Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), enghadapi anak yang sedang GTM membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Orang tua sebaiknya tidak langsung memaksa anak makan, tetapi membangun suasana makan yang nyaman dan mengenalkan pola makan yang teratur. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
1. Atur jadwal makan
Buat jadwal makan yang konsisten, yaitu tiga kali makanan utama dan dua kali makanan selingan atau snack. Susu dapat diberikan dua hingga tiga kali sehari sesuai kebutuhan anak. Hindari memberikan susu atau camilan terlalu dekat dengan waktu makan agar anak tidak telanjur kenyang.
2. Batasi waktu makan maksimal 30 menit
Waktu makan sebaiknya tidak berlangsung terlalu lama. Jika anak menunjukkan tanda tidak mau makan seperti mengatupkan mulut, memalingkan kepala, atau menangis, tawarkan kembali makanan tanpa memaksa. Jika anak tetap menolak setelah 10–15 menit, proses makan dapat diakhiri.
3. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan
Biasakan anak makan di meja makan, baik bersama keluarga maupun sendiri. Orang tua juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk makan sendiri sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya.
4. Hindari makan sambil bermain atau menonton
Jangan membiasakan anak makan sambil menonton televisi, bermain gadget, atau melakukan aktivitas lainnya. Saat makan, anak sebaiknya fokus pada makanan sehingga dapat belajar mengenali rasa lapar dan kenyang.
5. Jangan memaksa anak makan
Hindari memarahi, membujuk secara berlebihan, atau memaksa anak membuka mulut dan menghabiskan makanan. Tekanan saat makan justru dapat membuat anak memiliki pengalaman negatif terhadap makanan.
6. Jangan menjadikan makanan sebagai hadiah
Hindari memberikan makanan tertentu sebagai imbalan ketika anak berhasil melakukan sesuatu. Sebaiknya, makanan tetap diberikan sebagai bagian dari kebutuhan anak, bukan sebagai alat untuk membujuk atau memberikan penghargaan.
Penyebab GTM
GTM pada anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi fisik hingga kebiasaan makan. Beberapa di antaranya yaitu:
· Faktor fisik. Tumbuh gigi, sariawan, infeksi saluran pernapasan, GERD, konstipasi, atau gangguan pencernaan tertentu dapat membuat anak merasa tidak nyaman saat makan.
· Pengalaman makan yang kurang menyenangkan. Anak yang sering dipaksa menghabiskan makanan atau pernah mengalami kejadian seperti tersedak dapat memiliki pengalaman negatif saat makan sehingga cenderung menolak makanan.
· Jadwal makan yang tidak teratur. Waktu makan yang tidak konsisten dapat membuat anak sulit mengenali rasa lapar dan kenyang.
· Terlalu banyak susu atau camilan. Pemberian susu atau camilan terlalu sering, terutama mendekati waktu makan utama, dapat membuat anak sudah kenyang sehingga tidak tertarik makan.
· Tekstur makanan yang tidak sesuai usia. Tekstur makanan yang terlalu sulit dikunyah atau ditelan dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan akhirnya menolak makanan.
· Picky eating dan food neophobia.Anak dapat menjadi pemilih makanan atau takut mencoba makanan yang belum dikenal. Kondisi ini dapat menjadi bagian dari perkembangan anak, terutama pada usia 2–6 tahun.
GTM pada anak dapat menjadi tantangan bagi orang tua, tetapi kondisi ini tidak perlu langsung dihadapi dengan memaksa anak untuk makan. Dengan mengenali penyebabnya, membantu anak membangun kebiasaan makan yang lebih baik.
Jika anak terus menolak makan, mengalami kesulitan makan yang berkepanjangan, atau muncul tanda gangguan pertumbuhan dan kesehatan, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.






