Kanker serviks masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian, terutama karena penyakit ini dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala pada tahap awal. Di Indonesia, kanker serviks juga termasuk jenis kanker yang banyak ditemukan pada perempuan.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) tahun 2022 dari International Agency for Research on Cancer (IARC) dan WHO,yang dikutip pada 7 Oktober 2026, terdapat sekitar 36.964 kasus baru kanker serviks di Indonesia pada 2022.

Angka tersebut menempatkan kanker serviks sebagai kanker terbanyak kedua pada perempuan Indonesia setelah kanker payudara. Di tengah tingginya kasus tersebut, pola makan kerap dikaitkan dengan risiko kanker. Lantas, apakah ada makanan tertentu yang benar-benar bisa memicu kanker serviks?

Belum Ada Bukti

Hingga saat ini, tidak ada jenis makanan tertentu yang terbukti secara spesifik menjadi penyebab kanker serviks. Faktor utama yang diketahui berkaitan erat dengan kanker serviks adalah infeksi human papillomavirus (HPV) berisiko tinggi.

Kementerian Kesehatan RI menyebut sebagian besar kasus kanker serviks berkaitan dengan infeksi HPV. Virus tersebut dapat menular melalui kontak seksual dan jenis HPV tertentu dapat menyebabkan perubahan pada sel leher rahim yang dalam jangka panjang berpotensi berkembang menjadi kanker.

Maka, makanan tidak disebut sebagai penyebab langsung kanker serviks. Meski begitu, pola makan tetap penting diperhatikan karena beberapa jenis makanan dan pola konsumsi tertentu dapat berkaitan dengan kesehatan tubuh serta risiko kanker secara umum.

Pola Makan Dijaga

Beberapa jenis makanan berikut dapat dibatasi sebagai bagian dari pola makan yang lebih sehat:

  1. Daging merah, seperti daging sapi, kambing, dan babi.
  2. Daging olahan, seperti sosis, nugget, kornet, dan produk daging olahan lainnya.
  3. Makanan ultra-proses, seperti makanan ringan kemasan, permen, biskuit, dan makanan siap saji tertentu.
  4. Fast food yang umumnya tinggi kalori, lemak, garam, atau gula.
  5. Makanan yang digoreng atau dibakar terlalu sering, terutama jika pengolahannya menghasilkan bagian makanan yang hangus.
  6. Makanan tinggi garam, termasuk makanan yang diasinkan.
  7. Minuman dan makanan tinggi gula, terutama jika dikonsumsi secara berlebihan.
  8. Alkohol, yang memang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker.

Namun, daftar tersebut tidak berarti bahwa seseorang yang mengonsumsi makanan tersebut pasti akan mengalami kanker serviks. Pembatasan lebih ditujukan untuk menjaga pola makan secara keseluruhan dan menurunkan berbagai faktor risiko kesehatan.

Variasi Makanan

Sebaliknya, pola makan sehat dapat dilakukan dengan memperbanyak variasi makanan bergizi, termasuk buah dan sayuran.

Makanan berbahan dasar tumbuhan menyediakan berbagai vitamin, mineral, serat, serta senyawa bioaktif yang mendukung kesehatan tubuh.

Pilihan makanan dapat dibuat lebih beragam dengan mengonsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta sumber protein yang bergizi.

Faktor Utama Bukan Makanan

Kanker serviks memiliki faktor risiko yang berkaitan dengan infeksi HPV dibandingkan dengan konsumsi makanan tertentu. Kementerian Kesehatan menyebut sekitar 97 persen kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV.

Upaya pencegahan kanker serviks tidak cukup hanya dengan mengatur makanan. Pencegahan juga dapat dilakukan melalui vaksinasi HPV, melakukan skrining kanker serviks secara berkala, tidak merokok, serta menghindari perilaku seksual yang meningkatkan risiko penularan HPV.

Dengan demikian, tidak tepat jika makanan tertentu langsung disebut sebagai pemicu kanker serviks. Hal yang lebih penting adalah menjaga pola hidup secara keseluruhan sekaligus melakukan langkah pencegahan dan deteksi dini.