Dugaan kasus pes pneumonik di Siberia, Rusia, kembali mengingatkan Indonesia pada penyakit yang pernah menjadi salah satu wabah mematikan di Tanah Air.

Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan kewaspadaan tetap diperlukan karena hingga kini Indonesia masih mempunyai sejumlah faktor pendukung keberadaan vektor penyakit tersebut.

Pes bukan penyakit yang asing bagi rakyat negara ini. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis itu pertama kali tercatat di Jawa pada 1910-191, kemudian menyebar ke berbagai wilayah. Sejumlah dataran tinggi di Jawa juga pernah menjadi fokus alami pes, termasuk Boyolali, Malang, Pasuruan, hingga kawasan Tengger.

“Indonesia punya iklim tropis lembap yang menguntungkan kutu sebagai vektor yang efisien. Selain itu, populasi tikus (di Indonesia) tinggi di permukiman padat, pasar, dan lahan pertanian yang juga kontak erat dengan manusia,”

kata Dicky kepada Owrite.id, dikutip pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Waspada Lingkungan

Kondisi lingkungan menjadi salah satu alasan pes tetap perlu diwaspadai. Sanitasi dan pengelolaan sampah yang belum optimal, khususnya di kawasan padat, dapat meningkatkan interaksi antara manusia dengan tikus sebagai salah satu inang bakteri penyebab pes.

Aktivitas di pelabuhan dan bandara juga perlu mendapat perhatian karena menjadi titik pergerakan manusia maupun barang dari berbagai wilayah.

Namun, persoalan yang tidak kalah penting adalah kemampuan Indonesia mendeteksi kasus sejak dini. Dicky menyebut pes saat ini tergolong penyakit yang jarang ditemukan sehingga tenaga kesehatan berpotensi tidak langsung mengenali gejala.

“Pes ini sangat jarang sehingga tenaga kesehatan dan dokter juga bisa terlambat mengenalnya. Padahal kecepatan mendeteksi ini menjadi hal yang menentukan hidup-mati pasien,”

ujar dia.

Dicky meminta tenaga kesehatan meningkatkan kewaspadaan jika menemukan klaster pasien dengan demam akut disertai pembengkakan kelenjar getah bening yang nyeri.

Kewaspadaan juga diperlukan ketika muncul kasus pneumonia berat yang memburuk dengan cepat, terutama jika pasien memiliki riwayat perjalanan ke wilayah berisiko atau kontak dengan tikus maupun kutu.

“(Publik) perlu waspada kalau ada klaster demam akut dengan pembesaran kelenjar getah bening yang nyeri atau pneumonia berat yang cepat memburuk, terutama dengan riwayat perjalanan, kontak tikus atau kutu, atau kematian tikus mendadak di sekitar permukiman,”

jelas dia.

Kematian Tikus

Kematian tikus secara mendadak di suatu wilayah juga tidak boleh dianggap sepele, terutama di daerah yang memiliki riwayat pes. Maka, surveilans dinilai tidak cukup hanya dilakukan terhadap manusia. Pengawasan terhadap populasi tikus dan kutu juga perlu dilakukan secara berkala di wilayah yang pernah menjadi fokus pes.

“Surveilans jangan hanya pada manusia, tetapi juga tikus dan kutu di bekas daerah yang pernah punya riwayat terjangkit atau terdeteksi pes,”

tutur dia.

Meski memiliki sejumlah faktor kerentanan, Dicky menilai masyarakat tidak perlu panik terhadap dugaan kasus pes di Rusia. Risiko penyebaran dari kasus tersebut ke Indonesia dinilai rendah, terlebih kasus di Siberia diduga berkaitan dengan paparan di laboratorium dan telah dilakukan karantina serta pelacakan kontak.

Namun, pengalaman Indonesia di masa lalu menjadi alasan agar sistem deteksi dini tidak boleh diabaikan.

“Ini termasuk penyakit yang harus dilaporkan, masuk dalam penyakit karantina dan International Health Regulations. Notifikasi dan respons harus cepat dilakukan,”

imbuh Dicky.