Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membantah anggapan bahwa seseorang yang tiba-tiba kurus hingga terlihat sangat lemah karena terkena guna-guna atau santet. Ia menyebut kondisi tersebut justru dapat menjadi salah satu tanda seseorang mengalami tuberkulosis (TB).

Hal itu disampaikan Budi saat meninjau pelayanan TB di Puskesmas Johar Baru. Dalam kunjungannya, ia bertemu dengan seorang pasien TB yang tengah menjalani masa pemulihan.

Banyak yang mengira kalau badan tiba-tiba kurus kering itu karena guna-guna atau santet. Padahal secara medis, itu adalah ciri khas penderita TB,”

kata Budi dalam keterangannya dikutip dari Instagram @bgsadikin, Kamis, 8 Oktoberfest 2026.

Budi kemudian menceritakan kondisi pasien yang ditemuinya. Ia mengatakan pasien tersebut sempat mengalami penurunan berat badan hingga di bawah 48 kilogram.

Setelah disiplin menjalani pengobatan selama satu bulan, kondisi pasien mulai membaik. Nafsu makannya kembali dan berat badannya meningkat menjadi 50 kilogram.

Saya sangat bangga dengan mas ini. Meski sempat kurus di bawah 48 kilogram, setelah disiplin minum obat selama sebulan, nafsu makannya kembali dan berat badannya naik menjadi 50 kilogram,”

ujarnya.

Budi juga mengingatkan pasien TB agar tidak menghentikan pengobatan hanya karena mengalami efek samping obat. Salah satu efek yang dialami pasien tersebut adalah perubahan warna urine menjadi merah, yang dapat terjadi pada penggunaan rifampisin.

Beliau sempat cerita kalau efek samping obatnya bikin kencing berwarna merah. Saya pastikan itu memang efek yang selalu terjadi dan sangat normal, jadi tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti minum obat,”

jelasnya.

Menurut Budi, TB merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan. Pengobatan harus dijalani secara disiplin selama enam bulan, yakni dua bulan pertama dan dilanjutkan empat bulan berikutnya. 

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya menyelesaikan pengobatan sesuai regimen yang diberikan dan tidak menghentikannya lebih awal.

Ia menegaskan, pasien TB tidak harus kehilangan aktivitas sehari-harinya selama menjalani pengobatan. Setelah gejala klinis membaik, pasien dapat kembali bekerja dan menjalani aktivitas normal dengan tetap mengikuti ketentuan pencegahan penularan.

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan bisa disembuhkan. Kuncinya disiplin minum obat dua bulan pertama, dilanjut empat bulan terakhir. Begitu gejala klinisnya hilang, kalian sudah bisa kerja dan beraktivitas normal, asalkan tetap pakai masker sampai siklus enam bulannya selesai,”

tegas Budi.

Budi juga mengajak masyarakat lebih peka terhadap gejala TB. Salah satunya adalah batuk yang berlangsung selama dua minggu atau lebih, yang merupakan salah satu tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Kalau ada keluarga atau teman yang batuk dua minggu terus-menerus, segera ajak ke Puskesmas untuk cek dahak,”

pungkasnya.