Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Antraks Kembali Muncul di Gunungkidul, Wilayah Endemis Ini Terus Dibayangi Ancaman

Kasus antraks kembali muncul di Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemunculan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia

Ilustrasi Antraks
Ilustrasi Antraks (Gambar ilustrasi dibuat oleh AI)

Kasus antraks kembali muncul di Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemunculan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia ini menjadi perhatian karena Gunungkidul dikenal memiliki riwayat sebagai wilayah endemis antraks.

Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) sekaligus tim Halal Centre UGM, Nanung Danar Dono, Ph.D., mengatakan kasus antraks yang berulang di wilayah tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan masyarakat dan penanganan yang tuntas.

Menurut Nanung, antraks merupakan penyakit berbahaya yang dapat berakibat fatal apabila infeksi pada manusia tidak segera ditangani.

Iklan

Antraks itu penyakit zoonosis, menular dari hewan ke manusia. Jika tertular dan tidak segera diobati, risikonya adalah kematian,”

kata Nanung dalam keterangannya dikutip dari laman UGM, Jumat 09 Oktober 2026.

Penyebaran Antraks

Dia menjelaskan, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mencegah penyebaran antraks adalah penanganan ternak yang sakit atau mati mendadak.

Hewan yang menunjukkan kondisi tersebut, terutama jika dicurigai terinfeksi antraks, tidak boleh langsung disembelih atau dikonsumsi.

Pasalnya, bakteri Bacillus anthracis penyebab antraks dapat membentuk spora yang mampu bertahan lama di lingkungan.

Penanganan bangkai ternak secara sembarangan berpotensi memperluas kontaminasi dan meningkatkan risiko paparan terhadap manusia maupun hewan lain.

Nanung mengingatkan masyarakat agar tidak memindahkan atau menangani bangkai ternak yang dicurigai terjangkit antraks tanpa prosedur yang tepat.

Bangkai tersebut harus segera dilaporkan kepada petugas berwenang agar dapat ditangani sesuai ketentuan.

Jangan pernah berpikir eman-eman kalau harus dibuang. Daging bangkai yang mengandung antraks harus dimusnahkan, bukan dimasukkan ke tubuh kita,”

tegasnya.

Spora Tertelan

Penularan antraks pada manusia dapat terjadi melalui beberapa jalur, yakni ketika spora tertelan, terhirup, atau masuk melalui kulit yang mengalami luka.

Karena itu, risiko penularan tidak hanya berkaitan dengan konsumsi daging ternak yang terinfeksi, tetapi juga kontak dengan hewan atau material yang terkontaminasi.

Pada ternak, kematian mendadak menjadi salah satu tanda yang perlu diwaspadai. Kondisi tersebut dapat disertai demam tinggi dan hilangnya nafsu makan, meski kepastian infeksi tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas berwenang.

Nanung menegaskan, pencegahan antraks membutuhkan kewaspadaan peternak dan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki riwayat endemis.

Pelaporan segera terhadap ternak yang sakit atau mati mendadak serta penanganan bangkai sesuai prosedur menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan.

Racun itu untuk dimusnahkan, bukan untuk dimasukkan ke tubuh kita,”

pesannya.

Iklan