Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat baru 12,7 persen dari sekitar 2,5 juta hingga 3 juta penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun yang mengalami depresi telah mendapatkan pengobatan.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, mengatakan kelompok usia muda, terutama rentang 15–24 tahun, menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak persoalan kesehatan jiwa.
Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun,”
ujar Endang Sumiwi dalam keterangannya, Senin, 12 Oktober 2026.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi depresi pada penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 1,4 persen.
Iklan
Sementara itu, kelompok usia 15–24 tahun mencatat prevalensi tertinggi, yakni 2 persen. Data tersebut menggambarkan tantangan dalam penanganan depresi, terutama untuk memastikan masyarakat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan jiwa.
Selain keterbatasan akses pengobatan, stigma sosial terhadap gangguan kesehatan jiwa juga menjadi persoalan yang perlu diatasi.
Stigma dapat membuat seseorang enggan mencari pertolongan, sehingga dukungan lingkungan dan edukasi publik menjadi bagian penting dalam upaya penanganan.
Endang menegaskan, kesehatan jiwa merupakan isu penting dalam pembangunan nasional. Kemenkes juga merujuk data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) yang menempatkan gangguan jiwa sebagai salah satu penyumbang besar hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia.
Untuk memperluas akses layanan, Kemenkes terus memperkuat pelayanan kesehatan jiwa di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Saat ini, sebanyak 6.549 puskesmas atau sekitar 64 persen dari seluruh puskesmas di Indonesia telah mampu memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Pemerintah menargetkan seluruh puskesmas dapat menyediakan layanan tersebut dalam dua tahun ke depan.
Selain memperkuat layanan di puskesmas, Kemenkes melakukan skrining kesehatan jiwa melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta layanan rutin bagi ibu hamil dan ibu nifas melalui Antenatal Care (ANC).
Langkah ini ditujukan untuk membantu mendeteksi gejala lebih dini agar masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh penanganan sesuai kondisinya.
Hingga saat ini, skrining kesehatan jiwa telah dilakukan terhadap 71,86 juta penduduk berusia di atas 7 tahun.
Hasilnya menunjukkan indikasi gejala depresi tertinggi ditemukan pada kelompok ibu hamil dan ibu nifas, yakni 7,1 persen. Sementara itu, pada kelompok usia sekolah dan remaja, angkanya mencapai 2,3 persen.
Kemenkes juga menyediakan layanan Healing119.id untuk memberikan dukungan kepada masyarakat yang mengalami krisis kesehatan jiwa. Layanan melalui panggilan telepon maupun percakapan daring tersebut telah diakses oleh 284.916 pengguna.
Di sisi lain, perhatian terhadap kesehatan jiwa juga mencakup individu neurodivergen, termasuk orang dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan disleksia.
Kemenkes menekankan pentingnya pemahaman, penerimaan, dan dukungan lingkungan, terutama keluarga, agar individu dengan kondisi tersebut dapat memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya.
Melalui penguatan layanan kesehatan primer, skrining dini, dan edukasi publik, pemerintah berupaya memperluas akses penanganan kesehatan jiwa sekaligus mengurangi stigma yang masih melekat di masyarakat.