Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Duka Kesehatan Jiwa: Satu Psikiater Harus ‘Kawal’ 180 Ribu Warga Indonesia

Kesenjangan penanganan kesehatan jiwa juga dipengaruhi keterbatasan jumlah tenaga kesehatan serta ketimpangan distribusi di berbagai wilayah.

Ilustrasi kesehatan mental.
Ilustrasi kesehatan mental. (Pixabay/Geralt)

Beban gangguan kesehatan jiwa di Indonesia masih tinggi, sementara akses masyarakat terhadap layanan pengobatan belum memadai. Kesenjangan penanganan atau treatment gap menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya mengatasi masalah kesehatan jiwa di Tanah Air.

Dikutip pada 13 Oktober 2026, kesenjangan penanganan kesehatan jiwa juga dipengaruhi keterbatasan jumlah tenaga kesehatan serta ketimpangan distribusi di berbagai wilayah.

Merujuk Data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK) per 1 September 2026, Indonesia memiliki 1.495 psikiater. Jumlah tersebut setara dengan rasio satu psikiater untuk setiap 180.000 penduduk.

Iklan

Rasio itu masih jauh dari acuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni satu psikiater untuk setiap 30.000 penduduk.

Keterbatasan juga terlihat pada ketersediaan psikolog klinis di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang yang bertugas di Puskesmas.

Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam memperluas akses layanan kesehatan jiwa, terutama untuk mendeteksi gejala sejak dini dan memastikan masyarakat mendapatkan penanganan yang sesuai.

Beban

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi mengungkapkan bahwa gangguan jiwa menempati posisi kedua sebagai penyebab terbesar Years Lived with Disability (YLD) di Indonesia pada 2023, berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME).

YLD merupakan indikator yang mengukur beban kesehatan akibat hidup dengan kondisi penyakit atau disabilitas. Gangguan jiwa yang paling banyak berkontribusi terhadap beban tersebut meliputi depresi, gangguan kecemasan, dan skizofrenia.

Sementara itu, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen. Adapun prevalensi gangguan jiwa berat tercatat sebesar 4 per 1.000 anggota rumah tangga.

Meski demikian, jumlah penderita yang mendapatkan pengobatan masih jauh dari memadai.

“Pada kasus depresi, baru 12,7 persen penderita yang menerima pengobatan. Artinya, hampir 9 dari 10 orang dengan depresi di Indonesia belum tersentuh penanganan medis,”

kata Endang.

Skrining

Demi mengatasi persoalan tersebut, Kemenkes terus memperkuat upaya promotif dan preventif secara terintegrasi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG), termasuk layanan kesehatan bagi ibu hamil dan ibu pascapersalinan.

Hingga saat ini, skrining kesehatan jiwa melalui program Kemenkes telah menjangkau lebih dari 71,8 juta orang. Merujuk hasil skrining, ditemukan dugaan gejala depresi pada 1,2 persen sasaran dan gejala kecemasan pada 0,9 persen sasaran.

Kemenkes juga meluncurkan empat seri buku saku skrining kesehatan jiwa untuk mempercepat tindak lanjut hasil pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan primer.

Buku saku tersebut disusun untuk empat kelompok sasaran, yakni ibu hamil dan ibu pascapersalinan, anak dan remaja, dewasa, serta lanjut usia (lansia).

“Buku saku ini disusun bersama para ahli dari organisasi profesi sebagai panduan praktis bagi tenaga kesehatan di Puskesmas dalam menindaklanjuti hasil skrining di lapangan,”

ucap Endang.

Iklan