Cuci hidung menggunakan larutan natrium klorida (NaCl) 0,9 persen dapat membantu membersihkan lendir yang menyumbat hidung anak. Namun, prosedur ini perlu dilakukan dengan teknik yang tepat agar tetap aman.
Dokter Spesialis Anak, dr. Abdurrahman Hasanuddin, Sp.A, menjelaskan bahwa anggapan cairan cuci hidung bisa mengalir langsung ke otak tidak sesuai dengan anatomi rongga hidung.
Rongga hidung kita memiliki anatomi rute yang mengarah ke tenggorokan belakang dan saluran cerna. Saat cairan NaCl disemprotkan perlahan ke satu lubang hidung, cairan beserta ingus kental akan memutar dan mengalir keluar lewat lubang hidung sebelahnya, atau tertelan dengan aman masuk ke lambung. Sama sekali tidak ada jalan tembus yang membuat cairan ini ‘nyasar’ ke otak!,”
katanya yang dikutip Threads pribadinya, Selasa, 13 Oktober 2026.
Diunggahan lainnya, @dr.maman.sp.a, dijelaskan bahwa larutan NaCl 0,9 persen merupakan larutan garam isotonis yang membantu mengencerkan lendir agar lebih mudah dikeluarkan.
Iklan
Pembilasan juga dapat membantu membersihkan kotoran dan partikel yang menempel di rongga hidung.
Cairan NaCl 0,9 persen (saline) sifatnya isotonis, pH-nya sama dengan cairan tubuh kita sehingga sangat bersahabat dengan mukosa hidung,”
tulis akun tersebut.
Fungsinya bukan cuma mendorong ingus kental secara mekanik, tapi juga membilas virus, debu, dan alergen yang menempel di dinding hidung si kecil, sekaligus mengurangi pembengkakan agar ia bisa kembali bernapas lega dan nyenyak,”
Meski demikian, cuci hidung tidak boleh dilakukan sembarangan. IDAI menekankan bahwa tindakan ini perlu mengikuti petunjuk tenaga kesehatan, dengan memperhatikan kebersihan cairan, alat yang digunakan, serta teknik pembilasan.
Tekanan yang terlalu kuat dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, iritasi, atau keluhan pada telinga.
Cara Cuci Hidung Anak yang Tepat
Dalam unggahan tersebut, orang tua diingatkan untuk memperhatikan alat dan posisi anak ketika melakukan cuci hidung. Penyemprotan perlu dilakukan perlahan dan menggunakan alat yang sesuai, bukan dengan tekanan berlebihan.
Kuncinya ada di alat dan posisi. Gunakan spuit (suntikan tanpa jarum) khusus, pastikan anak dalam posisi duduk tegak dengan kepala sedikit menunduk (BUKAN telentang menengadah!), dan semprotkan cairan secara perlahan namun stabil sambil anak diminta membuka mulut untuk mencegah cairan salah masuk ke saluran telinga,”
jelasnya.
Orang tua juga perlu menyesuaikan teknik dengan usia dan kemampuan anak. Bayi yang belum mampu duduk atau mengikuti instruksi membutuhkan penanganan berbeda.
Karena itu, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum melakukan pembilasan sendiri, terutama jika belum memahami prosedurnya.
Selain itu, gunakan larutan saline steril atau produk siap pakai sesuai petunjuk. Pastikan alat bersih dan kering setelah digunakan.
Hindari memaksakan prosedur ketika anak meronta, tersedak, mengalami kesulitan bernapas, atau mengeluhkan nyeri telinga.
Jika hidung tersumbat sepenuhnya atau anak memiliki keluhan telinga, mintalah saran tenaga kesehatan terlebih dahulu.
Kapan Anak Harus Dibawa ke Dokter?
Cuci hidung dapat membantu meredakan hidung tersumbat, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan medis apabila anak mengalami gejala yang mengkhawatirkan.
Orang tua perlu segera mencari pertolongan apabila napas anak tampak cepat atau dinding dada terlihat tertarik ke dalam saat bernapas.
Dalam unggahan tersebut, orang tua juga diimbau meminta bantuan tenaga kesehatan apabila ragu melakukan cuci hidung secara mandiri atau mendapati kondisi anak yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Namun, jika Ayah Bunda masih ragu mempraktikkannya sendiri di rumah, sumbatan ingusnya sangat tebal/hijau, atau napas si kecil terlihat cepat (dinding dada tampak cekung), mari kita lakukan pembersihan dan evaluasi klinis yang aman di fasilitas kesehatan,”
pungkasnya.
Dengan demikian, cuci hidung dapat menjadi salah satu cara membantu membersihkan lendir pada anak, asalkan dilakukan dengan teknik dan alat yang tepat. Jika kondisi anak memburuk atau muncul tanda gangguan pernapasan, pemeriksaan medis harus menjadi prioritas.