Menurutnya, pengabaian kebutuhan protein hewani dapat menimbulkan dampak dalam jangka pendek maupun panjang.
Ia menyoroti persoalan stunting yang masih menjadi tantangan kesehatan anak di Indonesia. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 yang dikutipnya, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,5 persen.
Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80%. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,”
jelas Prof Ronny dikutip dari laman IPB University Senin 12 Oktober 2026.
Kekurangan Protein
Prof Ronny menjelaskan, usia dini merupakan periode penting bagi perkembangan otak anak. Pada fase ini, kecukupan protein dan zat gizi lainnya dibutuhkan untuk mendukung pembentukan serta fungsi jaringan tubuh, termasuk sistem saraf.
Kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kemampuan kognitif, konsentrasi, serta kesiapan anak dalam mengikuti proses pembelajaran.
Selain mendukung pertumbuhan jaringan tubuh, protein hewani juga menyediakan sejumlah zat gizi penting. Daging, misalnya, mengandung zat besi yang dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin.
Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, yang antara lain menimbulkan kelelahan dan mengganggu konsentrasi.
Sementara itu, telur dan susu menyediakan protein serta berbagai zat gizi yang dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang anak. Karena itu, pemenuhan kebutuhan gizi perlu dilakukan secara konsisten, terutama selama periode pertumbuhan.
Stuntingi Tantangan Kualitas SDM
Menurut Prof Ronny, persoalan kekurangan gizi pada anak tidak hanya berkaitan dengan kesehatan individu, tetapi juga dapat berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan.
Ia mengingatkan, masalah pertumbuhan, anemia, dan gangguan konsentrasi dapat menjadi tantangan bagi produktivitas generasi muda apabila tidak ditangani dengan baik.
Jadi, bonus demografi yang didengungkan akan menguntungkan Indonesia pada tahun 2045 mendatang, tidak akan berarti banyak jika produktivitas generasi saat ini rendah karena anemia, kurang fokus, serta tidak menjaga kesehatan tubuh dengan baik,”
simpulnya.
Ia menegaskan, konsumsi protein hewani bukan sekadar untuk mengenyangkan perut, melainkan bagian dari upaya memenuhi kebutuhan gizi yang mendukung pertumbuhan anak dan kualitas kesehatan generasi mendatang.
Pengabaian konsumsi protein akan menurunkan daya saing SDM Indonesia. Protein hewani penting untuk membangun otak tajam, tubuh sehat, dan sumber daya manusia kompetitif di tingkat global,”
tutupnya.