Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Bagaimana Vape Bisa Picu Risiko Diabetes? Ini Penjelasan Epidemiolog

Nikotin dalam rokok elektronik atau vape dapat memengaruhi pengaturan gula darah melalui sejumlah mekanisme, mulai dari memicu pelepasan hormon stres hingga mengganggu kerja insulin.

gambar ilustrasi rokok elektrik (vape)
gambar ilustrasi rokok elektrik (vape). (foto: pixabay)

Nikotin dalam rokok elektronik atau vape dapat memengaruhi pengaturan gula darah melalui sejumlah mekanisme, mulai dari memicu pelepasan hormon stres hingga mengganggu kerja insulin.

Selain nikotin, partikel dan senyawa kimia dalam aerosol vape juga berpotensi memicu peradangan yang dapat menurunkan sensitivitas tubuh terhadap insulin.

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan nikotin dapat mengaktifkan sistem saraf simpatis yang kemudian memicu pelepasan hormon stres, seperti adrenalin dan kortisol.

Iklan

Kedua hormon ini menaikkan gula darah dan melawan kerja insulin,”

kata Dicky kepada Owrite.id Rabu 14 Oktober 2026.

Selain memengaruhi hormon stres, nikotin juga berpotensi mengganggu fungsi sel beta pankreas. Sel tersebut bertanggung jawab memproduksi dan melepaskan insulin untuk membantu menjaga kadar gula darah tetap terkendali.

Ketika fungsi sel beta pankreas terganggu, sekresi insulin dapat ikut terpengaruh. Padahal, insulin memiliki peran penting dalam mengatur kadar glukosa dalam darah.

Kandungan Aerosol Vape

Dicky mengatakan, risiko gangguan metabolisme juga perlu dilihat dari kandungan aerosol vape yang terhirup penggunanya.

Aerosol tersebut dapat mengandung partikel halus, zat perisa, logam, serta senyawa karbonil yang terbentuk selama proses pemanasan.

Paparan sejumlah zat tersebut berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan sistemik di dalam tubuh. Kedua mekanisme ini dapat mengganggu sensitivitas insulin, yakni kemampuan sel tubuh merespons insulin secara efektif.

Jika sensitivitas insulin menurun, tubuh membutuhkan lebih banyak insulin untuk mengendalikan kadar gula darah.

Apabila kondisi ini berlangsung dan kemampuan pankreas tidak lagi mampu mengimbanginya, risiko gangguan metabolisme glukosa dapat meningkat.

Zat-zat ini memicu stres oksidatif dan peradangan sistemik. Dua mekanisme ini merusak sensitivitas insulin,”

ujarnya.

Lebih lanjut, Dicky menjelaskan nikotin juga dikaitkan dengan peningkatan lemak viseral atau lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam rongga perut.

Penumpukan lemak tersebut dapat memperburuk sensitivitas insulin dan meningkatkan risiko gangguan metabolisme.

Selain itu, nikotin berpotensi memperburuk profil lemak darah, yang juga berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2.

Meski sejumlah mekanisme biologis tersebut dapat menjelaskan kemungkinan hubungan antara penggunaan vape dan gangguan pengaturan gula darah, Dicky mengingatkan bahwa potensi mekanisme tidak serta-merta membuktikan vape secara langsung menyebabkan diabetes.

Tapi untuk memastikan besarnya risiko dan hubungan sebab-akibat tersebut, masih diperlukan penelitian lebih kuat yang mampu memisahkan pengaruh vape dari faktor lain, termasuk kebiasaan merokok konvensional,”

tandasnya.

Iklan