Angka 100 persen tidak bisa dibaca sebagai peluang seseorang terkena diabetes karena itu adalah hasil pada kelompok sampel tertentu. Kita perlu juga melihat desain penelitiannya,”
kata Dicky kepada Owrite.id, Rabu 14 Oktober 2026.
Dia menjelaskan, secara biologis, hubungan antara penggunaan vape dan peningkatan risiko diabetes masuk akal.
Sejumlah studi populasi juga menunjukkan pengguna rokok elektrik, terutama mereka yang menggunakan vape sekaligus rokok konvensional, memiliki risiko lebih tinggi mengalami prediabetes dan diabetes tipe 2.
Belum Dapat Dipastikan
Meski demikian, Dicky mengingatkan sebagian besar penelitian tersebut masih bersifat observasional. Kondisi ini membuat hubungan sebab-akibat antara penggunaan vape dan diabetes belum dapat dipastikan.
Menurut dia, peneliti juga perlu mempertimbangkan faktor lain, mengingat banyak pengguna vape merupakan mantan perokok atau masih mengonsumsi rokok konvensional.
Faktor tersebut menyulitkan peneliti untuk memisahkan dampak penggunaan vape dari pengaruh kebiasaan merokok.
Vape berpotensi meningkatkan risiko gangguan metabolisme, tapi bahwa ini pasti menyebabkan diabetes, ini perlu riset yang lebih kuat lagi,”
ujarnya.
Karena itu, Dicky menilai temuan BRIN perlu dicermati dengan memperhatikan metode penelitian dan karakteristik sampel yang digunakan.
Hasil penelitian pada kelompok tertentu tidak serta-merta menggambarkan risiko yang sama pada seluruh populasi pengguna vape.
Meski hubungan langsung antara vape dan diabetes masih membutuhkan bukti lebih kuat, Dicky menegaskan rokok elektronik bukan produk yang bebas risiko bagi kesehatan.
Yang jelas dan harus diketahui, vape bukan produk yang netral, aman, atau sehat bagi tubuh,”
tandasnya.