Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Suka Krenyes-Krenyes Es Batu? Menkes Budi: Kata Gue, Stop!

Tekstur es yang keras dapat memberikan tekanan berulang pada gigi, sehingga meningkatkan risiko keretakan, serta merusak tambalan gigi.

Es batu
Es batu. (Pixabay)

Mengunyah es batu terasa menyegarkan bagi sebagian orang. Namun, kebiasaan ini ternyata perlu diwaspadai karena bisa menjadi salah satu tanda anemia atau kekurangan zat besi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kebiasaan mengunyah es batu sebagai hal sepele.

“Buat kamu-kamu yang suka ngunyah es batu, jangan-jangan kamu tuh lagi anemia atau kurang darah, loh. Kok bisa? Sini saya jelasin,”

kata Budi dikutip dari Instagram @bgsadikin, Kamis, 15 Oktober 2026.

Ia bilang orang yang mengalami anemia akibat kekurangan zat besi dapat lebih mudah merasa lelah karena kemampuan darah untuk membawa oksigen ke jaringan tubuh, termasuk otak, berkurang.

Iklan

Mengunyah es batu yang sangat dingin diduga dapat meningkatkan aliran darah ke otak sehingga seseorang merasa lebih terjaga dan segar untuk sementara waktu.

“Kondisi ngidam hal yang nggak wajar ini secara medis disebut pica atau pagophagia,”

ujar Budi.

Bukan Camilan

Pagophagia merupakan dorongan atau keinginan kuat untuk mengunyah es batu secara berulang. Kondisi ini termasuk bentuk pica, yakni perilaku mengonsumsi atau menginginkan benda yang bukan makanan. Kebiasaan tersebut berkaitan dengan kekurangan zat besi, meskipun tidak semua orang yang mengunyah es batu mengalami anemia.

Selain kemungkinan berkaitan dengan anemia, Budi mengingatkan bahwa kebiasaan mengunyah es batu juga dapat merusak gigi. Tekstur es yang keras dapat memberikan tekanan berulang pada gigi, sehingga meningkatkan risiko gigi retak, serta merusak tambalan gigi.

“Selain tanda anemia, es batu itu kan keras dan dingin, lama-lama gigi kalian bisa retak. Tolong jangan tambahin kerjaan saya deh buat ngurusin gigi kalian,”

ucap Budi.

Risiko lain adalah tersedak, terutama ketika seseorang mengunyah es batu sambil berbicara atau bercanda. Es batu yang licin dapat membuat seseorang kesulitan mengontrol di dalam mulut sehingga berpotensi masuk ke saluran pernapasan.

Kata Gue, sih, Stop!

Budi pun menyarankan masyarakat untuk menghentikan kebiasaan mengunyah es batu dan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila memiliki dorongan tersebut secara berulang.

“Kalau elu atau teman-teman lu hobinya ngunyah es batu, kata gue sih stop. Segera datang ke Puskesmas buat cek. Sayang banget kan udah ganteng dan cantik, masa kurang darah sih?”

tutur dia.

Pemeriksaan di puskesmas dapat membantu mengetahui apakah kebiasaan tersebut berkaitan dengan kekurangan zat besi atau anemia. Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan darah dan pemeriksaan lanjutan sesuai kondisi pasien.

Kalian juga sebaiknya tidak langsung mengonsumsi suplemen zat besi tanpa mengetahui penyebab keluhan. Penanganan yang tepat perlu disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan faktor yang mendasari kekurangan zat besi.

Iklan