Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Asap Karhutla Mulai Menjauh, Napas Jakarta Masih ‘Tertahan’ di Zona Merah

BMKG mengimbau masyarakat waspada terhadap penurunan kualitas udara akibat asap karhutla, terutama ketika beraktivitas di luar ruang.

Sejumlah siswa memakai masker yang dibagikan gratis sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Telkom Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (14/10/2026).
Sejumlah siswa memakai masker yang dibagikan gratis sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Telkom Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (14/10/2026). (ANTARA FOTO/Hasrul Said/nym.)

Kualitas udara di Jakarta masih berada dalam kategori tidak sehat meski sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjauh dari Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, sejak Sabtu, 17 Oktober 2026.

Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan ISPU di Kebun Jeruk mencapai 120, Menteng 116, dan Kelapa Gading 103. Ketiga wilayah itu masuk kategori tidak sehat.

Sementara itu, ISPU di Tanah Abang tercatat 60 atau kategori sedang, sedangkan Marunda berada di angka 49 atau kategori baik. Partikulat halus PM2.5 menjadi parameter kritis dalam pemantauan kualitas udara.

Iklan

Waspada

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara akibat asap karhutla, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan.

“Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap, terutama anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan,”

kata Faisal, dikutip pada Minggu, 18 Oktober 2026.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk. Selain itu, masyarakat diminta menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan tabir surya ketika beraktivitas di bawah sinar matahari.

BMKG menegaskan keberadaan asap yang terdeteksi melalui citra satelit tidak selalu menandakan peningkatan konsentrasi polutan di permukaan. 

“Karena itu, masyarakat perlu merujuk pada pemantauan kualitas udara untuk mengetahui kondisi di lingkungan masing-masing,”

ujar dia.

Iklan