Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Sering Dikira Penyakit Lansia, Stroke Usia Muda Bukan Mitos

Stroke pada usia muda tidak bisa dilepaskan dari kondisi kesehatan dan faktor risiko yang mungkin sudah berkembang selama bertahun-tahun.

Sakit di usia muda.
Sakit di usia muda. (Magnific/jcomp)

Stroke sering dianggap sebagai penyakit yang hanya menyerang orang lanjut usia. Padahal, gangguan yang terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat atau pembuluh darah di otak pecah ini juga bisa dialami orang berusia muda.

Tekanan darah tinggi, diabetes, hingga kebiasaan merokok menjadi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risikonya.

Data dari Kementerian Kesehatan RI berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip pada 19 Oktober 2026, menunjukkan prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk. Angka tersebut menunjukkan bahwa usia muda bukan jaminan seseorang terbebas dari stroke.

Iklan

Tak Pandang Umur

Stroke merupakan kondisi medis darurat yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu, akibat penyumbatan pembuluh darah maupun pendarahan. Ketika sel-sel otak kekurangan oksigen, kerusakan dapat terjadi dalam waktu singkat.

Berbagai faktor yang berkontribusi terhadap stroke iskemik pada orang dewasa berusia muda. Faktor tersebut mencakup tekanan darah tinggi, diabetes, gangguan lemak darah, merokok, dan kondisi kesehatan tertentu.

Artinya, stroke pada usia muda tidak bisa dilepaskan dari kondisi kesehatan dan faktor risiko yang mungkin sudah berkembang selama bertahun-tahun.

Tanda Stroke

Gejala stroke dapat muncul secara mendadak. Mengenali tanda-tanda menjadi penting agar pertolongan medis bisa diberikan secepat mungkin. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai yakni:

  1. Wajah mendadak tidak simetris. Salah satu sisi wajah tampak turun ketika tersenyum.
  2. Lengan atau kaki melemah. Salah satu sisi tubuh tiba-tiba terasa lemah, kebas, atau sulit digerakkan.
  3. Bicara mendadak pelo. Seseorang kesulitan berbicara, mengucapkan kata-kata dengan jelas, atau memahami pembicaraan.
  4. Gangguan penglihatan. Penglihatan tiba-tiba kabur, berbayang, atau hilang pada salah satu maupun kedua mata.
  5. Sakit kepala hebat secara tiba-tiba. Nyeri kepala yang sangat berat dan tidak biasa, terutama jika disertai gangguan keseimbangan atau gejala neurologis lain.

Menurut Centers for Disease Control (CDC), gejala stroke juga dapat berupa pusing mendadak, kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan, dan kebingungan. Gejala tersebut tidak boleh dianggap sepele hanya karena muncul pada orang yang masih berusia 20-an atau 30-an tahun.

Merokok Bisa Meningkatkan Risiko

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke pada usia muda. Salah satunya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi yang sering tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang mungkin tidak menyadari kondisinya.

Selain hipertensi, beberapa faktor lain yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Diabetes: kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah.
  2. Kolesterol tinggi: gangguan kadar lemak darah dapat berkontribusi terhadap pembentukan plak yang menyumbat pembuluh darah.
  3. Merokok: zat dalam asap rokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
  4. Kurang aktivitas fisik: kebiasaan terlalu banyak duduk dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko metabolik.
  5. Pola makan tidak sehat: konsumsi garam berlebihan dan pola makan yang kurang seimbang dapat memperburuk faktor risiko tertentu.
  6. Riwayat keluarga dan kondisi medis tertentu: sebagian orang memiliki risiko tambahan akibat faktor keturunan atau gangguan kesehatan tertentu.

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya pengendalian tekanan darah, diabetes, gangguan lemak darah, dan kebiasaan hidup untuk membantu mencegah stroke. Meski begitu, memiliki salah satu faktor risiko tidak berarti seseorang pasti akan mengalami stroke.

Cegah Stroke

Pencegahan stroke dapat dimulai melalui kebiasaan sehari-hari. Periksa tekanan darah secara berkala, pantau kadar gula dan kolesterol sesuai kebutuhan, berhenti merokok, rutin melakukan aktivitas fisik, serta menerapkan pola makan seimbang.

Jika memiliki hipertensi, diabetes, atau kondisi medis lain, ikuti pengobatan dan anjuran tenaga kesehatan. Pemeriksaan rutin juga membantu mendeteksi faktor risiko sebelum menimbulkan komplikasi.

Jika tanda stroke muncul mendadak, jangan menunggu sampai besok. Setiap menit sangat berharga untuk mendapatkan pertolongan.

Iklan