Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

‘Hantu’ E. Coli di Serpong Lagoon: Dugaan Kontaminasi Tinja dan Urgensi Sanitasi

Air tidak seharusnya digunakan kembali untuk minum, memasak, atau menyikat gigi sebelum dinas kesehatan memverifikasi kualitas.

Bakteri Escherichia coli.
Bakteri Escherichia coli. (britannica.com)

Dugaan pencemaran air yang berkaitan dengan lonjakan kasus muntaber di Perumahan Serpong Lagoon, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, memunculkan kekhawatiran terhadap higienitas air.

Epidemiolog Dicky Budiman mengatakan hasil pemeriksaan sampel yang menunjukkan keberadaan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air rumah warga perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan menyeluruh terhadap sumber air dan jaringan distribusi. 

“E. coli itu indikator kontaminasi tinja. Berasal dari feses atau kotoran. Keberadaannya dalam air yang digunakan untuk kebutuhan rumah tangga menunjukkan ada masalah sanitasi yang harus segera ditangani,”

kata Dicky dalam keterangan yang diterima Owrite.id, Rabu, 21 Oktober 2026.

Ia juga menyoroti informasi mengenai sumber air baku yang diduga berasal dari danau bekas galian pasir dengan kondisi keruh kehijauan dan dipenuhi sampah. Kelayakan sumber air perlu dievaluasi, terlebih jika diduga menerima aliran buangan dari luar kawasan perumahan.

Iklan

Kondisi air yang keruh, berbau, berlendir, dan mengandung jentik dapat menjadi tanda ada persoalan kualitas air dan proses pengolahan. Namun, penentuan sumber serta tingkat pencemaran tetap harus berdasar pada pemeriksaan teknis dan hasil laboratorium.

“Artinya, danau ini seharusnya tidak dipakai,”

ujar dia.

Kontaminan

Pengolahan air tidak cukup hanya mengandalkan penyaringan apabila beban pencemaran tinggi. Proses pengolahan perlu disesuaikan dengan kondisi sumber air, disertai disinfeksi yang memadai dan pengendalian kualitas selama distribusi.

Risiko kontaminasi juga tidak otomatis hilang setelah pasokan air dari sumber yang bermasalah dihentikan. Tandon dan pipa rumah dapat menjadi tempat sisa kontaminasi sehingga perlu diperiksa dan dibersihkan dengan prosedur yang benar.

“Biofilm di pipa dan tandon bisa jadi reservoir kuman. Jadi urutannya, pastikan jaringan induk dibilas dan didisinfeksi lebih dulu supaya rumah tidak terkontaminasi ulang,”

kata Dicky.

Ia meminta pemerintah memastikan jaringan distribusi utama dibersihkan dan didisinfeksi sebelum warga melakukan pembersihan tandon rumah. Prosedur pembersihan dan penggunaan disinfektan harus mengikuti arahan petugas sanitasi agar efektif sekaligus aman.

Air tidak seharusnya digunakan kembali untuk minum, memasak, atau menyikat gigi sebelum dinas kesehatan memverifikasi kualitas. Pemeriksaan perlu mencakup parameter mikrobiologi, sisa klor, dan kekeruhan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kasus muntaber di Serpong Lagoon menunjukkan pentingnya memastikan keamanan air tidak hanya di sumber pengolahan, tetapi juga hingga titik pemakaian. 

“Hasil pengujian laboratorium dan penyelidikan epidemiologi diperlukan untuk memastikan hubungan antara dugaan pencemaran air dan lonjakan kasus yang terjadi,”

tutur Dicky.

Iklan