Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Bulu Kucing Bisa Sebabkan Toksoplasmosis? Ternyata Ini Fakta Penularannya

Bulu kucing yang rontok sering dituding dapat menularkan penyakit tersebut, terutama kepada perempuan yang sedang merencanakan kehamilan.

Kucing peliharaan 
Kucing peliharaan (Foto: Unsplash/Parker Coffman)

Kucing kerap dianggap sebagai penyebab toksoplasmosis atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan tokso.

Bahkan, bulu kucing yang rontok sering dituding dapat menularkan penyakit tersebut, terutama kepada perempuan yang sedang merencanakan kehamilan.

Anggapan ini membuat sebagian orang khawatir memelihara kucing di rumah. Padahal, toksoplasmosis bukan disebabkan oleh bulu kucing, melainkan infeksi parasit bernama Toxoplasma gondii.

Iklan

Bagaimana sebenarnya penyakit ini bisa menular? Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 25 Mei 2025, simak penjelasan agar tidak salah mengklaim asal usul toksoplasmosis.

Tokso Disebabkan Parasit

Toksoplasmosis merupakan infeksi akibat parasit Toxoplasma gondii, bukan virus seperti yang masih sering dianggap masyarakat.

Kucing dan anggota keluarga felidae merupakan inang definitif parasit tersebut. Artinya, parasit dapat menjalani fase reproduksi seksual di dalam usus kucing, kemudian mengeluarkan ookista melalui fesesnya.

Namun, bukan berarti setiap kucing membawa atau menularkan toksoplasmosis. Kucing yang terinfeksi pun umumnya hanya mengeluarkan ookista dalam periode terbatas.

Bulu Kucing Menularkan

Penularan toksoplasmosis melalui aktivitas menyentuh atau mengelus bulu kucing tergolong tidak mungkin terjadi karena kucing biasanya tidak membawa parasit tersebut pada bulunya.

Risiko justru muncul ketika seseorang tanpa sengaja menelan parasit dari lingkungan yang terkontaminasi feses kucing terinfeksi, misalnya setelah membersihkan kotak pasir tanpa mencuci tangan.

Dengan demikian, bulu kucing bukan sumber utama penularan toksoplasmosis.

Tak Hanya Kucing

Justru fakta yang seringnya tidak terdengar adalah penularan toksoplasmosis ternyata tidak selalu berkaitan dengan hewan peliharaan.

Penelitian berjudul Patterns of Transmission and Sources of Infection in Outbreaks of Human Toxoplasmosis yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases pada 2019 menunjukkan bahwa makanan dan air terkontaminasi turut berperan dalam berbagai wabah toksoplasmosis.

Beberapa jalur penularannya meliputi:

  • Mengonsumsi daging mentah atau kurang matang yang terinfeksi.
  • Meminum air yang terkontaminasi parasit.
  • Mengonsumsi buah dan sayuran yang tidak dicuci dengan benar.
  • Tidak mencuci tangan setelah bersentuhan dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi feses kucing.

Kekhawatiran Ibu Hamil

Toksoplasmosis menjadi perhatian khusus bagi ibu hamil karena infeksi yang baru terjadi selama atau sesaat sebelum kehamilan berpotensi menular kepada janin melalui plasenta. Dampaknya dapat berupa gangguan kesehatan serius, termasuk kerusakan mata dan otak bayi.

Meski demikian, memelihara kucing bukan berarti seseorang otomatis mengalami toksoplasmosis atau harus menyingkirkan hewan peliharaannya saat hamil.

CDC menyarankan ibu hamil untuk menghindari aktivitas membersihkan kotoran kucing secara langsung apabila memungkinkan.

Selalu Jaga Kebersihan

Menariknya, parasit yang dikeluarkan melalui feses kucing membutuhkan waktu sekitar 1–5 hari untuk menjadi infektif. Karena itu, membersihkan kotak pasir setiap hari dapat membantu mengurangi risiko penularan.

Maka itu, menjaga kebersihan lingkungan dan memperhatikan makanan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko infeksi.

Jadi, anggapan bahwa bulu kucing secara langsung menyebabkan toksoplasmosis tidak tepat. Hal yang perlu diwaspadai adalah paparan parasit melalui feses terinfeksi, makanan, air, serta lingkungan yang terkontaminasi.

Iklan