Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Peserta ITB Ultra Marathon Meninggal, Bahaya Lomba Lari Tanpa Kesiapan Medis

Fasilitas dan tenaga terlatih diperlukan agar peserta yang mengalami kondisi darurat dapat segera memperoleh penanganan.

Ilustrasi marathon
Ilustrasi marathon (Foto: pexels.com)

Kematian peserta ITB Ultra Marathon 2026 menjadi pengingat pentingnya kesiapan penanganan kegawatdaruratan dalam perlombaan lari.

Epidemiolog Dicky Budiman menilai, penyelenggara perlu memastikan ketersediaan fasilitas medis, ambulans, dan tenaga terlatih untuk menangani peserta yang mengalami kondisi darurat selama lomba.

Harus ada pos medis, ambulans, AED, dan juga petugas yang terlatih resusitasi, ya, RJP di sepanjang rute, serta batas waktu dan cutoff yang realistis,”

ujar Dicky kepada Owrite, Senin, 26 Oktober 2026.

Dicky menekankan, kesiapan medis perlu menjadi bagian dari perencanaan lomba, termasuk memastikan akses pertolongan tersedia di sepanjang rute.

Iklan

Fasilitas dan tenaga terlatih diperlukan agar peserta yang mengalami kondisi darurat dapat segera memperoleh penanganan.

AED (automated external defibrillator) merupakan alat kejut jantung otomatis yang dapat membantu menangani jenis henti jantung tertentu.

Sementara itu, resusitasi jantung paru (RJP) merupakan tindakan pertolongan untuk membantu mempertahankan sirkulasi darah dan pernapasan ketika seseorang mengalami henti jantung.

Selain kesiapan fasilitas medis, Dicky mengingatkan bahwa lomba lari jarak jauh seperti ultramarathon memiliki sejumlah tantangan kesehatan.

Durasi aktivitas yang panjang, kurang tidur, dan berlari pada malam hari dapat menambah risiko bagi peserta.

Pada ultra maraton, risikonya bertambah karena jarak yang jauh, durasi panjang, kurang tidur, dan lari malam hari,”

ucapnya.

Risiko lain yang perlu diantisipasi adalah heat stroke atau kondisi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu yang berbahaya. Risiko ini perlu mendapat perhatian, terutama ketika peserta berlari dalam cuaca panas dan lembap.

Kemudian juga heat stroke, ya, ketika suhu tubuh naik tidak terkendali, ya, risikonya tinggi, terutama di iklim tropis yang panas dan lembap seperti di kita, ya, di Indonesia, apalagi kalau pelarinya memaksakan tempo,”

jelasnya.

Dicky juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan cairan tubuh selama perlombaan. Kekurangan maupun kelebihan asupan cairan dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada pelari jarak jauh.

Jadi kekurangan cairan atau kelebihan cairan, misalnya hiponatremia akibat minum air putih berlebihan tanpa elektrolit, itu juga sama-sama berbahaya,”

tandasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar