Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

CKG Jangan Jago Mendeteksi, tetapi Gagal Mengobati

Terdapat empat tantangan utama yang perlu diatasi agar temuan dari pemeriksaan CKG benar-benar berujung pada pelayanan kesehatan.

Tenaga medis memeriksa kesehatan warga saat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Ciherang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (27/10/2026).
Tenaga medis memeriksa kesehatan warga saat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Ciherang, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (27/10/2026). (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/nym.)

Ahli kesehatan masyarakat Dicky Budiman berpendapat keberhasilan deteksi dini tidak otomatis menjamin pasien mendapatkan pengobatan yang efektif dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG)

Menurut Dicky, pada 2026 pelaksanaan CKG tidak hanya mencakup skrining atau pemeriksaan kesehatan, tetapi juga pengobatan. Namun, tantangan terbesar ialah kesinambungan layanan setelah menemukan masalah kesehatan.

“Dalam epidemiologi mengenal kesenjangan antara deteksi penyakit dan keberhasilan pengobatan (detection and effective treatment). Jadi seseorang dapat terdeteksi memiliki masalah kesehatan, tapi belum tentu mendapat penanganan efektif,”

kata Dicky dalam keterangan yang diterima Owrite.id, Selasa, 27 Oktober 2026.

Tantangan

Menurut dia terdapat empat tantangan utama yang perlu diatasi agar temuan dari pemeriksaan CKG benar-benar berujung pada pelayanan kesehatan, yakni kapasitas pelayanan lanjutan, keterjangkauan biaya, kepatuhan dan kesinambungan pengobatan, serta integrasi data dan kejelasan tanggung jawab tindak lanjut.

Iklan

Persoalan tersebut menjadi penting karena manfaat deteksi dini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menemukan penyakit, tetapi juga oleh kesiapan sistem kesehatan dalam memberikan penanganan setelah pemeriksaan. Pasien yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan harus dipastikan dapat mengakses layanan, menjalani pengobatan, dan memperoleh pemantauan sesuai kebutuhan.

Dicky mendukung penguatan CKG melalui penerapan sistem close-loop referral atau rujukan tertutup.

“Saya secara pribadi mendukung penguatan CKG dengan sistem close loop referral. Jadi tiap temuan yang membutuhkan tindak lanjut dipantau sampai ada kepastian bahwa pasien telah memperoleh pelayanan yang sesuai,”

ujar dia.

Melalui pendekatan tersebut, proses pelayanan tidak berhenti ketika hasil pemeriksaan keluar atau pasien mendapatkan rujukan. Harus ada kepastian bahwa pasien benar-benar mengakses layanan lanjutan yang dibutuhkan.

Tanpa mekanisme tindak lanjut yang jelas, program pemeriksaan berisiko menghasilkan banyak temuan kesehatan tanpa diikuti penanganan yang memadai. Karena itu integrasi data dan pembagian tanggung jawab antarlayanan perlu diperkuat agar pasien tidak terlepas dari pemantauan.

“Jangan sampai (pemerintah/nakes) berhasil menemukan jutaan masalah kesehatan tapi gagal memastikan jutaan orang tersebut memperoleh penanganan yang dibutuhkan,”

ucap Dicky.

CKG merupakan program layanan pemeriksaan kesehatan dasar yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan untuk seluruh warga negara Indonesia, mulai dari bayi baru lahir hingga lansia, yang dapat diakses satu kali dalam setahun (saat hari ulang tahun hingga 30 hari setelahnya).

Iklan