Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Jangan Bangga dengan Banyaknya Peserta CKG! yang Lebih Penting itu Hal Ini..

Pendekatan tersebut penting, terutama dalam menghadapi penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular.

Petugas medis mengambil sampel darah warga saat cek kesehatan gratis dalam rangka kegiatan bakti kesehatan di halaman Rumah Sakit Undata Palu, Sulawesi Tengah
Petugas medis mengambil sampel darah warga saat cek kesehatan gratis dalam rangka kegiatan bakti kesehatan di halaman Rumah Sakit Undata Palu, Sulawesi Tengah (ANTARA FOTO/Muhammad Rifki Hasan/bar/nym)

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) tidak cukup dinilai dari jumlah masyarakat yang menjalani pemeriksaan.

Ahli kesehatan masyarakat Dicky Budiman menilai, keberhasilan program tersebut juga harus diukur dari tindak lanjut hasil skrining abnormal, termasuk kepastian pasien memperoleh diagnosis dan memulai pengobatan.

Ada beda antara keberhasilan pelaksanaan program dan keberhasilan mencapai tujuan kesehatan masyarakat,”

kata Dicky dalam keterangan yang diterima Owrite, Selasa, 27 Oktober 2026.

Dicky menjelaskan, CKG merupakan langkah strategis untuk mengubah pendekatan pelayanan kesehatan di Indonesia.

Iklan

Jika sebelumnya layanan kesehatan cenderung berfokus pada penanganan orang yang sudah sakit, program ini diharapkan mendorong deteksi dini risiko penyakit sebelum kondisi berkembang lebih jauh.

Pendekatan tersebut penting, terutama dalam menghadapi penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit kardiovaskular yang membutuhkan deteksi dini serta pengendalian faktor risiko secara berkelanjutan.

Namun, menurut Dicky, keberhasilan pelaksanaan program tidak serta-merta menunjukkan bahwa tujuan kesehatan masyarakat telah tercapai.

Pilihan EditorSyifa Fauziah

Satu Korban Melayang di Prancis: Virus Shamonda Mulai Gerogoti Manusia?

Salah satu aspek paling menentukan adalah kesinambungan penanganan setelah pemeriksaan dilakukan.

Hasil skrining yang menunjukkan dugaan masalah kesehatan perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis. Pasien juga perlu memperoleh pengobatan, konseling, dan pemantauan kondisi secara berkala.

Ini yang paling menentukan, karena setelah seseorang ditemukan misalnya punya penyakit diabetes atau masalah kesehatan lain, apakah dia memperoleh konfirmasi diagnosis, pengobatan, konseling, dan juga pemantauan sampai kondisinya terkendali?,”

ucapnya.

Karena itu, Dicky menilai indikator keberhasilan CKG tidak seharusnya berhenti pada jumlah peserta yang telah diperiksa.

Pemerintah juga perlu mengukur proporsi masyarakat dengan hasil skrining abnormal yang memperoleh tindak lanjut dan benar-benar memulai pengobatan.

Indikator keberhasilannya enggak cukup hanya jumlah orang yang diperiksa, tapi berapa proporsi hasil abnormal yang ditindaklanjuti dan juga yang pasien yang memulai pengobatan,”

tuturnya.

Selain kesinambungan penanganan medis, evaluasi CKG juga perlu memperhatikan pemerataan akses dan mutu pemeriksaan.

Kelompok berisiko tinggi serta masyarakat yang tinggal di daerah terpencil perlu mendapatkan layanan yang memadai. Di sisi lain, proses skrining harus menggunakan metode yang tervalidasi dan didukung tenaga kesehatan yang kompeten.

Dicky mendorong agar CKG terintegrasi dengan pelayanan kesehatan primer sehingga masyarakat yang teridentifikasi memiliki risiko penyakit tidak berhenti pada tahap pemeriksaan, tetapi juga memperoleh penanganan berkelanjutan.

Program ini perlu terhubung dengan pelayanan kesehatan primer agar masyarakat yang teridentifikasi memiliki risiko penyakit tidak berhenti pada tahap pemeriksaan, tetapi juga memperoleh penanganan berkelanjutan,”

tandasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar