Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Pelari Wajib Tahu! Nyeri Dada hingga Pandangan Gelap, Sinyal Tubuh yang Bisa Berakibat Fatal

Latihan perlu dilakukan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan peningkatan beban aktivitas.

Peserta bersiap berlari saat mengikuti BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 kategori 5K dan 10K di kawasan Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta
Peserta bersiap berlari saat mengikuti BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 kategori 5K dan 10K di kawasan Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom)

Pelari yang mengalami nyeri dada, sesak napas tidak wajar, pusing berat, atau pandangan menggelap saat mengikuti perlombaan harus segera menghentikan aktivitas dan mencari pertolongan medis.

Epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan, peserta tidak boleh memaksakan diri demi mencapai garis finis ketika tubuh menunjukkan tanda bahaya.

Kenali batas diri, jangan mengejar target waktu atau gengsi, karena apalagi saat tubuh tidak fit, juga harus berhenti dan minta bantuan kalau muncul nyeri atau rasa tertekan di dada, sesak yang tidak wajar, pusing berat, pandangan gelap, jantung berdebar tidak teratur, mual hebat, bingung, atau berhenti berkeringat,”

kata Dicky kepada Owrite, Senin, 26 Oktober 2026.

Dicky menegaskan, gejala tersebut tidak boleh dianggap sebagai kelelahan biasa. Nyeri atau tekanan di dada, sesak napas yang tidak wajar, pusing, serta detak jantung tidak teratur dapat mengindikasikan masalah kesehatan serius yang membutuhkan penanganan segera.

Iklan

Ini kan tanda bahaya, jadi bukan sekadar lelah,”

ujarnya.

Selain mengenali tanda bahaya, Dicky menekankan pentingnya persiapan fisik sebelum mengikuti perlombaan, terutama untuk lari jarak jauh.

Latihan perlu dilakukan secara bertahap agar tubuh memiliki waktu untuk beradaptasi dengan peningkatan beban aktivitas.

Juga harus ada latihan bertahap, ya, minimal 12 atau 16 minggu untuk jarak setengah maraton ke atas, ya, dengan penambahan beban bertahap, ya,”

tuturnya.

Peserta juga perlu memperhatikan kondisi tubuh menjelang hari perlombaan. Dicky mengingatkan agar pelari tidak mengikuti lomba ketika sedang sakit, mengalami gejala infeksi, atau kurang tidur.

Kemudian juga jangan ikut lomba lari ini kalau sedang demam, flu, atau baru sembuh dari sakit, atau kurang tidur,”

jelas Dicky.

Dicky juga menyarankan peserta mempelajari rute perlombaan dan mengetahui lokasi pos medis sebelum mulai berlari.

Peserta dapat berlari bersama pasangan atau kelompok agar bisa saling membantu jika salah satu mengalami masalah kesehatan.

Menurutnya, keselamatan harus menjadi prioritas selama perlombaan. Pelari perlu mengesampingkan target waktu maupun keinginan menyelesaikan lomba apabila kondisi tubuh menunjukkan tanda bahaya.

Menghentikan aktivitas dan meminta pertolongan medis merupakan langkah penting untuk mencegah kondisi memburuk.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar