Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Krisis Dokter Tak Bisa “Disulap” dengan AI, Pakar Beri Peringatan Keras!

"Tapi kita harus tempatkan sebagai alat pendukung tenaga kesehatan ya, jadi bukan sebagai pengganti dokter secara menyeluruh,"

Pelatihan medis dengan teknologi canggih.
Pelatihan medis dengan teknologi canggih. (Dibuat oleh AI)

Ahli Kesehatan Masyarakat dr. Dicky Budiman, Ph.D., menilai pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat menjadi salah satu solusi untuk membantu mengatasi kekurangan dokter di Indonesia.

Namun, teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat pendukung tenaga kesehatan, bukan pengganti dokter secara menyeluruh.

Pernyataan itu disampaikan Dicky menanggapi usulan Wakil Ketua Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Nihayatul Wafiroh, mengenai penggunaan AI untuk menjawab persoalan kekurangan dokter di Indonesia.

Iklan

Menurut Dicky, AI berpotensi meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan apabila digunakan sesuai dengan kebutuhan dan batasannya. Teknologi ini dapat membantu tenaga medis menjalankan sejumlah tugas, mulai dari skrining pasien hingga pengolahan informasi kesehatan.

Tapi kita harus tempatkan sebagai alat pendukung tenaga kesehatan ya, jadi bukan sebagai pengganti dokter secara menyeluruh,”

ujarnya kepada Owrite, Rabu, 28 Oktober 2026.

Dari perspektif kebijakan kesehatan dan epidemiologi, Dicky menjelaskan setidaknya ada tiga peran AI yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelayanan medis.

Pertama, AI dapat membantu proses skrining dan penapisan risiko sehingga tenaga kesehatan lebih mudah mengidentifikasi pasien yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Kedua, teknologi tersebut dapat mendukung pengambilan keputusan klinis dengan membantu tenaga medis mengolah dan menganalisis informasi yang relevan. Meski demikian, hasil analisis AI tetap perlu ditinjau berdasarkan kondisi pasien dan pertimbangan profesional dokter.

Ketiga, AI dapat memperkuat surveilans epidemiologi serta mengurangi beban administratif tenaga kesehatan. Pemanfaatan teknologi untuk pekerjaan administratif diharapkan memberi ruang bagi dokter untuk lebih berfokus pada pemeriksaan dan penanganan pasien.

Bukan Pengganti Pemeriksa dan Empati

Meski memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan, Dicky mengingatkan bahwa kemampuan AI tetap memiliki batasan.

Teknologi tersebut tidak dapat sepenuhnya mengambil alih aspek-aspek penting dalam praktik kedokteran yang membutuhkan interaksi langsung dan pertimbangan manusia.

Tapi sekali lagi, AI ini tidak dapat menggantikan pemeriksaan fisik, komunikasi empatik, pertimbangan etik, dan tanggung jawab profesional seorang dokter,”

tegas Dicky.

Menurutnya, pelayanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menganalisis gejala atau menghasilkan rekomendasi berdasarkan data.

Dokter juga harus mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh, melakukan pemeriksaan fisik, menjelaskan pilihan penanganan, serta mengambil keputusan dengan memperhatikan aspek etik dan keselamatan pasien.

Karena itu, penggunaan AI dalam pelayanan kesehatan perlu memastikan bahwa keputusan medis tetap berada dalam pengawasan tenaga profesional. Hasil yang diberikan teknologi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai diagnosis atau keputusan akhir tanpa evaluasi klinis.

Dalam konteks mengatasi kekurangan dokter, Dicky menilai keberhasilan penerapan AI semestinya diukur dari kemampuannya memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam melayani masyarakat, bukan dari seberapa jauh teknologi tersebut menggantikan peran manusia.

Konteks kesehatan bukan ketika dokter digantikan mesin, tapi ketika dokter dapat melayani lebih banyak pasien dengan lebih tepat, aman, dan manusiawi dengan bantuan AI,”

tandasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal