Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Pareidolia, Fenomena Unik saat Otak Menemukan Wajah pada Benda Mati

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai pareidolia, yakni kecenderungan seseorang mengenali pola atau bentuk yang familier dari objek maupun rangsangan visual yang sebenarnya tidak memiliki makna tersebut.

Ilustrasi Pareidolia
Ilustrasi Pareidolia (Foto: Unsplash/Vadim Bogulov)

Pernah melihat bentuk wajah tersenyum pada stopkontak, ekspresi marah di bagian depan mobil, atau wajah manusia pada awan? Fenomena tersebut ternyata memiliki penjelasan ilmiah dan berkaitan dengan cara otak manusia memproses informasi visual.

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai pareidolia, yakni kecenderungan seseorang mengenali pola atau bentuk yang familier dari objek maupun rangsangan visual yang sebenarnya tidak memiliki makna tersebut.

Pareidolia bukan sekadar permainan imajinasi. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana otak manusia dapat mengenali pola wajah secara otomatis, bahkan ketika objek yang dilihat merupakan benda mati.

Iklan

Mengapa Bisa Terjadi?

Melansir dari laman Halodoc pada 16 Jan 2025, otak manusia memiliki kemampuan khusus untuk mendeteksi wajah. Kemampuan ini membantu seseorang mengenali individu, membaca ekspresi, hingga memahami interaksi sosial.

Ketika melihat dua titik menyerupai mata dan satu garis menyerupai mulut, otak dapat langsung menafsirkannya sebagai wajah meskipun bentuk tersebut berasal dari susunan benda secara kebetulan.

Proses pengenalan ini berlangsung sangat cepat. Otak tidak selalu menunggu informasi visual yang lengkap untuk menentukan apakah sesuatu menyerupai wajah manusia.

Akibatnya, benda sederhana seperti rumah, tas, buah-buahan, atau permukaan tembok dapat terlihat memiliki ekspresi tertentu.

Mengenali Wajah Palsu

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 9 September 2020 mengungkap bahwa otak manusia dapat memproses bentuk wajah semu dengan sangat cepat.

Peneliti menggunakan teknologi pemindaian otak fMRI dan MEG untuk mengamati respons terhadap gambar wajah manusia, benda menyerupai wajah, serta benda biasa.

Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahap awal, otak memproses wajah semu dengan cara yang menyerupai pemrosesan wajah asli.

Namun, dalam waktu sekitar 250 milidetik, representasi tersebut berubah sehingga benda kembali diproses sebagai objek biasa.

Terlihat Memiliki Ekspresi

Menariknya, pareidolia tidak berhenti pada kemampuan mengenali bentuk wajah.

Dalam jurnal Psychological Science oleh Colin Palmer dan Colin Clifford dari University of New South Wales tahun 2020 menemukan bahwa wajah semu dapat mengaktifkan mekanisme visual yang juga digunakan manusia untuk memproses arah tatapan wajah asli.

Bahkan, manusia dapat memberikan persepsi usia, gender, hingga ekspresi emosional pada wajah yang sebenarnya tidak ada.

Hal tersebut menjelaskan mengapa bagian depan mobil terkadang terlihat sedang tersenyum, sementara susunan jendela dan pintu rumah dapat menyerupai wajah yang sedang terkejut.

Bukan Gangguan Mental

Melihat wajah pada benda mati bukan berarti seseorang mengalami gangguan mental. Pareidolia merupakan fenomena persepsi visual yang umum terjadi.

Seseorang biasanya tetap menyadari bahwa wajah yang dilihatnya hanyalah pola pada benda, bukan wajah manusia sungguhan.

Fenomena ini juga memperlihatkan betapa sensitifnya sistem penglihatan manusia terhadap karakteristik wajah.

Jadi, melihat wajah tersenyum pada secangkir kopi atau ekspresi manusia pada permukaan tembok bukanlah sesuatu yang aneh.

Fenomena tersebut menjadi salah satu contoh menarik bagaimana otak manusia berusaha menemukan pola bermakna dari lingkungan sekitarnya.

Iklan