Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Jangan Asal Berhenti Minum Obat TBC! Ternyata Terapi 1 Bulan Bukan untuk Pasien TBC Aktif

Penggunaannya masih membutuhkan bukti uji klinis yang memadai serta rekomendasi dan persetujuan otoritas kesehatan terkait.

Gambar Ilustrasi (sumber: magnific.com)
Gambar Ilustrasi (sumber: magnific.com)

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Dr. dr. Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), mengingatkan masyarakat agar tidak keliru memahami wacana pengobatan tuberkulosis (TBC) hanya dalam satu bulan.

Regimen satu bulan yang telah direkomendasikan untuk kondisi tertentu merupakan terapi pencegahan infeksi TBC laten, bukan pengobatan untuk pasien TBC aktif.

Beberapa regimen pencegahan untuk TBC laten memang berlangsung satu bulan, tetapi tidak dapat dijadikan dasar bahwa TBC aktif sembuh dalam durasi sama,”

kata Desdiani dalam keterangan resmi yang diterima Owrite, Jumat, 30 Oktober 2026.

Desdiani menjelaskan, TBC aktif dan infeksi TBC laten merupakan dua kondisi klinis yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan penanganan yang tidak sama.

Iklan

Pada infeksi laten, bakteri TBC berada di dalam tubuh, tetapi tidak menyebabkan penyakit aktif. Sementara itu, TBC aktif merupakan kondisi ketika bakteri berkembang dan menimbulkan penyakit.

Salah satu regimen pencegahan TBC laten yang dapat diberikan selama satu bulan menggunakan kombinasi rifapentin dan isoniazid setiap hari.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan regimen tersebut sebagai salah satu pilihan terapi pencegahan TBC, dengan ketentuan penggunaannya sesuai kriteria pasien.

Jadi pengobatan 1 bulan, hanya untuk TBC Laten, bukan TBC aktif,”

terangnya.

Untuk pasien baru TBC paru aktif yang sensitif terhadap obat, pengobatan standar umumnya berlangsung enam bulan.

Pada dua bulan pertama, pasien mendapatkan kombinasi empat obat, yakni isoniazid, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol. Pengobatan kemudian dilanjutkan selama empat bulan dengan kombinasi isoniazid dan rifampisin.

Meski demikian, perkembangan penelitian telah membuka peluang untuk memperpendek durasi pengobatan TBC aktif pada kelompok pasien tertentu.

Salah satu regimen yang telah memiliki bukti penelitian dan rekomendasi klinis adalah pengobatan selama sekitar empat bulan menggunakan kombinasi rifapentin, isoniazid, pirazinamid, dan moksifloksasin.

Penelitian Study 31/A5349 yang diterbitkan dalam jurnal The New England Journal of Medicine pada 2021 menunjukkan regimen empat bulan yang mengandung moksifloksasin tidak lebih buruk efektivitasnya dibandingkan pengobatan standar enam bulan pada pasien yang memenuhi kriteria penelitian.

Artinya, efektivitasnya tidak lebih buruk dari terapi standar dalam batas penilaian yang ditentukan,”

sambungnya.

Regimen tersebut diberikan dalam dua tahap. Selama delapan minggu pertama, pasien mengonsumsi rifapentin, isoniazid, pirazinamid, dan moksifloksasin.

Selanjutnya, selama sembilan minggu, pengobatan dilanjutkan dengan kombinasi rifapentin, isoniazid, dan moksifloksasin.

Desdiani mengingatkan, keberhasilan pengobatan tidak hanya ditentukan oleh lamanya waktu konsumsi obat. Kombinasi obat yang digunakan juga berperan penting dalam menentukan efektivitas terapi.

Ia mencontohkan, penelitian terhadap regimen empat bulan yang tidak menggunakan moksifloksasin tidak berhasil membuktikan bahwa efektivitasnya setara atau tidak lebih buruk dibandingkan pengobatan standar enam bulan.

Ini berarti keberhasilan tidak hanya ditentukan lamanya terapi, tetapi juga kombinasi obat,”

jelas Dr Desdiani.

Selain regimen tersebut, pengobatan empat bulan juga dapat diberikan kepada sebagian anak dan remaja dengan TBC nonberat.

Namun, regimen untuk kelompok ini berbeda dari kombinasi rifapentin dan moksifloksasin, serta hanya berlaku bagi pasien yang memenuhi kriteria klinis tertentu.

Dengan demikian, pilihan pengobatan berdurasi lebih singkat tidak dapat diterapkan kepada seluruh pasien TBC.

Risiko Resistensi Obat

Desdiani turut mengingatkan risiko apabila pengobatan TBC aktif dihentikan terlalu cepat atau tidak menggunakan regimen yang sesuai.

Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kegagalan pengobatan, kekambuhan, hingga berkembangnya resistensi obat.

Apabila resistensi terjadi, pasien dapat menghadapi pengobatan yang lebih rumit dengan kombinasi obat berbeda dan durasi terapi lebih panjang.

Jika resistensi terjadi, pasien mungkin memerlukan kombinasi obat berbeda, terapi yang lebih kompleks dan berdurasi lebih panjang. Selain itu, pasien TBC paru yang masih menular berisiko terus menularkan bakteri kepada orang-orang di sekitarnya,”

katanya.

Karena itu, pasien TBC tidak dianjurkan menghentikan konsumsi obat sendiri meskipun gejala seperti batuk mulai mereda.

Jika mengalami efek samping atau kesulitan menjalani pengobatan, pasien perlu berkonsultasi dengan tenaga medis.

Percepatan Penanganan TBC

Alih-alih hanya berfokus pada pemangkasan durasi pengobatan, Desdiani menilai percepatan penanganan TBC perlu disertai penguatan layanan kesehatan.

Upaya tersebut mencakup diagnosis dini, kemudahan akses pemeriksaan, ketepatan pemberian terapi, ketersediaan obat, hingga pendampingan pasien sampai pengobatan selesai.

Menurut dia, keberhasilan program penanggulangan TBC tidak cukup diukur dari seberapa singkat pasien mengonsumsi obat.

Hal yang lebih penting adalah memastikan pasien mendapatkan regimen yang tepat, menyelesaikan pengobatan, dan terhindar dari kekambuhan.

Sementara itu, pengobatan TBC aktif selama satu bulan belum menjadi regimen standar yang dapat diterapkan secara luas.

Penggunaannya masih membutuhkan bukti uji klinis yang memadai serta rekomendasi dan persetujuan otoritas kesehatan terkait.

Durasi satu bulan sendiri masih berupa potensi kandidat obat, dan penggunaannya bergantung pada hasil uji klinis serta persetujuan otoritas terkait,”

tandasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar