Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 22.000 perempuan di Indonesia meninggal setiap tahun akibat kanker leher rahim atau kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV).
Untuk menekan angka kematian tersebut, pemerintah memperkuat program imunisasi HPV sejak usia anak sekaligus memperluas skrining kanker serviks bagi perempuan dewasa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Kalau diberikan pada anak usia 9 sampai 14 tahun dengan hanya satu dosis, itu bisa memberikan perlindungan hampir 90 persen, angka presisinya di 88 persen perlindungannya,”
kata Direktur Imunisasi Kemenkes, dr. Indri Yogyaswari, dalam webinar yangdikutip, Jumat, 30 Oktober 2026.
Indri menjelaskan, pemberian vaksin HPV sejak usia anak dapat memberikan perlindungan lebih tinggi dibandingkan vaksinasi ketika seseorang sudah dewasa.
Iklan
Karena itu, imunisasi sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah infeksi HPV yang berisiko menyebabkan kanker.
Dia membandingkan tingkat perlindungan vaksin pada kelompok usia berbeda. Menurutnya, vaksinasi pada usia lebih dari 20 tahun dengan dua dosis memberikan perlindungan sekitar 60 persen.
Akan tetapi, kalau diberikan pada usia lebih dari 20 tahun dengan diberikan dua dosis, itu paling hanya sekitar 60 persen perlindungannya. Semakin awal kita berikan, perlindungannya akan semakin tinggi, semakin besar,”
ujarnya.
Program imunisasi HPV gratis dari pemerintah menyasar anak perempuan dan laki-laki usia 10–11 tahun atau kelas 5 sekolah dasar (SD).
Sementara itu, skrining kanker leher rahim diintegrasikan dengan program CKG untuk perempuan dewasa mulai usia 30 tahun. Pemeriksaan tersebut menjadi upaya deteksi dini untuk mengetahui adanya infeksi HPV maupun perubahan sel yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Upaya pencegahan juga penting karena infeksi HPV tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks pada perempuan, tetapi juga sejumlah jenis kanker pada laki-laki.
Data global 2022 mencatat sekitar 95.000 laki-laki mengalami kanker yang berkaitan dengan HPV, dengan sekitar 44.000 di antaranya meninggal dunia.
Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), Prof. dr. Hinky Hindra Irawan Satari, menegaskan vaksin HPV telah melalui tahapan pengujian sebelum digunakan dalam program imunisasi nasional.
Vaksin HPV aman dan efektif karena telah melalui uji klinis sebelum digunakan dalam program imunisasi nasional,”
tegas Hinky.
Ia menjelaskan, reaksi setelah imunisasi dapat berbeda pada setiap orang. Efek yang mungkin muncul antara lain bengkak, kemerahan, dan nyeri di lokasi suntikan, serta pusing, lemas, demam, mual, dan muntah. Reaksi tersebut umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh.
Karena itu, upaya menekan kematian akibat kanker serviks membutuhkan kesinambungan antara imunisasi sejak usia anak dan skrining ketika dewasa.
Selain pemeriksaan, tindak lanjut terhadap perempuan yang memperoleh hasil skrining abnormal juga menjadi bagian penting dalam pencegahan dan penanganan penyakit tersebut.
Akses pemeriksaan serta tindak lanjut bagi perempuan yang ditemukan memiliki kelainan juga menjadi bagian penting agar deteksi dini memberikan manfaat nyata,”