Meski cakupan di wilayah sasaran telah mencapai angka, perluasan imunisasi untuk anak laki-laki masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah lantaran anak-anak di luar tiga provinsi tersebut belum masuk dalam wilayah pelaksanaan perluasan program pada 2026.
HPV adalah kelompok virus umum yang menyerang kulit dan selaput lendir (mukosa), termasuk area genital, mulut, dan tenggorokan. Cara penularan yakni kontak kulit ke kulit, terutama melalui hubungan seksual (vaginal, anal, maupun oral).
Vaksinasi HPV efektif untuk mencegah infeksi tipe risiko tinggi dan kutil kelamin:
- Anak usia 9–13 tahun: 2 kali pemberian dengan jarak 12 bulan.
- Usia 13–45 tahun: 3 kali pemberian (jarak 2 bulan antara vaksin pertama dan kedua, lalu 6 bulan kemudian).
Dini
Direktur Imunisasi Kemenkes Indri Yogyaswari menjelaskan pemberian vaksin HPV sejak usia anak penting untuk memberikan perlindungan yang lebih optimal terhadap infeksi virus tersebut.
“Kalau diberikan pada anak usia 9 sampai 14 tahun dengan hanya satu dosis, itu bisa melindungi hampir 90 persen, angka presisi perlindungan (mencapai) 88 persen,”
kata Indri dikutip pada Jumat, 30 Oktober 2026.
Waktu pemberian vaksin turut memengaruhi tingkat perlindungan yang diperoleh seseorang. Maka imunisasi perlu diberikan sebelum seseorang berisiko terpapar HPV.
“Kalau diberikan pada usia lebih dari 20 tahun dengan diberikan dua dosis, perlindungan paling hanya sekitar 60 persen. Semakin awal diberikan, perlindungan akan semakin tinggi, semakin besar,”
jelas dia.
Jangan Keliru
Selain persoalan cakupan, Kemenkes juga menghadapi tantangan berupa informasi keliru mengenai imunisasi yang berpotensi memengaruhi kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan keterlibatan media dan pemengaruh (influencer) diperlukan untuk membantu meluruskan informasi mengenai vaksin HPV.
“Imunisasi merupakan salah satu isu kesehatan yang rentan terhadap hoaks atau disinformasi,”
kata Aji.
Dia mengajak media dan pemengaruh menginformasikan berdasarkan bukti ilmiah agar masyarakat memperoleh pemahaman yang benar mengenai manfaat imunisasi.
“Kami mengajak rekan-rekan media, jurnalis, dan para influencer untuk tidak hanya memberitakan, tetapi juga terus aktif mengedukasi masyarakat, mengangkat fakta berbasis bukti dan meluruskan informasi-informasi yang keliru tentang imunisasi, khususnya imunisasi HPV,”
ucap dia.