Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

RSUD Kabupaten Bakal Punya Cath Lab: Cara Kemenkes Putus Rantai ‘Musafir Medis’ Pasien Jantung

Ada tantangan: ketersediaan alat kesehatan harus diikuti dengan keberadaan dokter spesialis yang mampu memberikan tindakan medis.

Ilustrasi sakit jantung.
Ilustrasi sakit jantung. (Pixabay/tumisu)

Kementerian Kesehatan berupaya mendekatkan pelayanan penyakit jantung kepada masyarakat yakni melengkapi seluruh Rumah Sakit Umum Daerah tingkat kabupaten secara bertahap dengan fasilitas kateterisasi jantung atau catheterization laboratory (cath lab).

Cath lab atau laboratorium kateterisasi adalah ruang tindakan medis khusus di rumah sakit yang dilengkapi peralatan pencitraan sinar-X (angiografi) untuk mendiagnosis dan menangani penyakit jantung serta pembuluh darah secara minimal invasif (minim sayatan).

Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono berujar fasilitas tersebut memungkinkan pasien mendapatkan tindakan medis, termasuk pemasangan ring jantung, tanpa harus selalu dirujuk ke rumah sakit di kota besar.

Iklan

“Penyediaan fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses penanganan penyakit katastropik,”

ujar Dante dalam keterangan resmi yang diterima Owrite.id, Minggu, 1 November 2026.

Pemerintah pun telah mengidentifikasi empat kelompok penyakit katastropik yang menjadi perhatian.

“Kami sudah mengevaluasi penyakit yang paling banyak menyebabkan kematian dan berdampak pada pembiayaan, yang kami sebut sebagai penyakit katastropik. Ada empat yakni kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi,”

jelas dia.

Geografis

Menurut Dante, selama ini masyarakat di sejumlah daerah masih menghadapi kendala geografis untuk memperoleh layanan kesehatan tertentu. Pasien bahkan harus melakukan perjalanan jauh ke ibu kota provinsi atau daerah lain demi mendapatkan tindakan medis.

Ia mencontohkan dukungan alat kesehatan yang telah diberikan pemerintah untuk Provinsi Aceh. Dengan fasilitas tersebut, pasien jantung diharapkan dapat memperoleh tindakan pemasangan ring di daerahnya sendiri.

“Jadi kalau ada orang dengan sakit jantung, dia enggak perlu datang ke Jakarta, dia bisa diobati, dipasang ring di Aceh,”

tutur Dante.

Meski demikian, pemerataan fasilitas kesehatan tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia. Ketersediaan alat kesehatan harus diikuti dengan keberadaan dokter spesialis yang mampu memberikan tindakan medis.

“Pemerintah juga mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan tenaga medis melalui pendidikan dokter spesialis agar fasilitas kesehatan yang disediakan dapat dimanfaatkan secara optimal,”

kata Dante.

Iklan