Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Kesehatan

Distribusi Dokter Spesialis: Jawa Dominan 59 Persen, Lima Provinsi Kehilangan Akses Dokter Jantung

Pakar kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan Dicky Budiman menyoroti ketimpangan distribusi tenaga kesehatan masih menjadi persoalan serius dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia.

Ilustrasi Dokter Spesialis Menumpuk di Jawa, 5 Provinsi Tak Punya Dokter Jantung
Ilustrasi Dokter Spesialis Menumpuk di Jawa (Foto: Doc. Owrite/Acel)

Pakar kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan Dicky Budiman menyoroti ketimpangan distribusi tenaga kesehatan masih menjadi persoalan serius dalam sistem pelayanan kesehatan Indonesia.

Konsentrasi dokter spesialis di Pulau Jawa membuat masyarakat di sejumlah daerah menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan medis spesialistik, bahkan ada provinsi yang belum memiliki jenis dokter spesialis tertentu.

Persoalannya sebagian besar soal distribusi, jadi bukan hanya jumlah. Sekitar 59 persen dokter spesialis terkonsentrasi di Jawa. Bahkan ada provinsi yang tidak punya jenis spesialis sama sekali, seperti NTT, Papua, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat,”

kata Dicky kepada Owrite, Rabu, 4 November 2026.

Dia mengatakan bahwa keterbatasan dokter spesialis jantung masih terjadi di sejumlah wilayah. Berdasarkan data yang dirujuknya hingga 2026, lima provinsi tersebut belum memiliki dokter spesialis jantung.

Iklan

Kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan akses pelayanan kesehatan antara masyarakat di wilayah perkotaan, khususnya Jawa, dengan penduduk di daerah yang memiliki keterbatasan tenaga medis spesialistik,”

jelasnya.

Dicky menjelaskan, ketimpangan distribusi tenaga kesehatan tidak terlepas dari sejumlah persoalan struktural. Di antaranya kapasitas produksi tenaga medis, skema insentif bagi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah, serta kemampuan fiskal pemerintah daerah.

Sistem Pendidikan Kedokteran

Persoalan produksi berkaitan dengan kemampuan sistem pendidikan kedokteran dalam menghasilkan tenaga spesialis sesuai kebutuhan nasional.

Sementara itu, persoalan insentif dan fiskal daerah turut memengaruhi kemampuan daerah menarik serta mempertahankan tenaga kesehatan.

Di sisi lain, keterbatasan dokter dan tenaga kesehatan juga berpotensi memengaruhi keselamatan pasien serta mutu pelayanan medis.

Namun, Dicky mengingatkan bahwa besaran dampaknya terhadap angka kematian belum dapat dipastikan karena belum tersedia penelitian nasional yang secara khusus menghubungkan kekurangan tenaga kesehatan dengan angka kematian di daerah.

Saya melihat belum ada studi nasional yang mengaitkan kekurangan SDM dengan angka kematian di daerah. Jadi, arah dampaknya jelas, tetapi besarnya belum bisa saya hitung secara valid,”

ujarnya.

Dicky yang juga mengelola program pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit di Universitas YARSI itu menjelaskan, keterbatasan tenaga kesehatan dapat menimbulkan sejumlah risiko dalam proses pelayanan.

Fasilitas Kesehatan

Salah satunya adalah keterlambatan penanganan pasien karena harus menjalani rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih jauh.

Waktu tempuh dan proses rujukan yang panjang berpotensi membuat pasien tidak segera mendapatkan tindakan medis yang dibutuhkan.

Selain itu, ketimpangan tenaga kesehatan juga dapat menyebabkan kapasitas fasilitas kesehatan tidak termanfaatkan secara optimal.

Di satu daerah, fasilitas pelayanan mungkin tersedia, tetapi tidak didukung tenaga medis yang memadai untuk menjalankan layanan tersebut.

Risiko lainnya adalah meningkatnya beban kerja tenaga kesehatan yang jumlahnya terbatas. Beban kerja berlebihan dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam pelayanan medis sehingga berpotensi memengaruhi keselamatan pasien.

Persoalan distribusi tenaga kesehatan perlu dilihat sebagai bagian dari pembenahan sistem kesehatan nasional. Penambahan jumlah dokter saja tidak cukup apabila tidak disertai kebijakan pemerataan penempatan, insentif yang memadai, serta dukungan pembiayaan daerah,”

tutup Dicky.

Iklan