Kondisi ini berpotensi memperlebar kesenjangan akses pelayanan kesehatan antara masyarakat di wilayah perkotaan, khususnya Jawa, dengan penduduk di daerah yang memiliki keterbatasan tenaga medis spesialistik,”
jelasnya.
Dicky menjelaskan, ketimpangan distribusi tenaga kesehatan tidak terlepas dari sejumlah persoalan struktural. Di antaranya kapasitas produksi tenaga medis, skema insentif bagi tenaga kesehatan yang bertugas di daerah, serta kemampuan fiskal pemerintah daerah.
Sistem Pendidikan Kedokteran
Persoalan produksi berkaitan dengan kemampuan sistem pendidikan kedokteran dalam menghasilkan tenaga spesialis sesuai kebutuhan nasional.
Sementara itu, persoalan insentif dan fiskal daerah turut memengaruhi kemampuan daerah menarik serta mempertahankan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, keterbatasan dokter dan tenaga kesehatan juga berpotensi memengaruhi keselamatan pasien serta mutu pelayanan medis.
Namun, Dicky mengingatkan bahwa besaran dampaknya terhadap angka kematian belum dapat dipastikan karena belum tersedia penelitian nasional yang secara khusus menghubungkan kekurangan tenaga kesehatan dengan angka kematian di daerah.
Saya melihat belum ada studi nasional yang mengaitkan kekurangan SDM dengan angka kematian di daerah. Jadi, arah dampaknya jelas, tetapi besarnya belum bisa saya hitung secara valid,”
ujarnya.
Dicky yang juga mengelola program pendidikan Magister Administrasi Rumah Sakit di Universitas YARSI itu menjelaskan, keterbatasan tenaga kesehatan dapat menimbulkan sejumlah risiko dalam proses pelayanan.
Fasilitas Kesehatan
Salah satunya adalah keterlambatan penanganan pasien karena harus menjalani rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih jauh.
Waktu tempuh dan proses rujukan yang panjang berpotensi membuat pasien tidak segera mendapatkan tindakan medis yang dibutuhkan.
Selain itu, ketimpangan tenaga kesehatan juga dapat menyebabkan kapasitas fasilitas kesehatan tidak termanfaatkan secara optimal.
Di satu daerah, fasilitas pelayanan mungkin tersedia, tetapi tidak didukung tenaga medis yang memadai untuk menjalankan layanan tersebut.
Risiko lainnya adalah meningkatnya beban kerja tenaga kesehatan yang jumlahnya terbatas. Beban kerja berlebihan dapat meningkatkan risiko kesalahan dalam pelayanan medis sehingga berpotensi memengaruhi keselamatan pasien.
Persoalan distribusi tenaga kesehatan perlu dilihat sebagai bagian dari pembenahan sistem kesehatan nasional. Penambahan jumlah dokter saja tidak cukup apabila tidak disertai kebijakan pemerataan penempatan, insentif yang memadai, serta dukungan pembiayaan daerah,”
tutup Dicky.