Ya itu kaget (orangtuanya), nggak menyangka kan,”
ucap Budi.
Pelaku Sempat Mengaku Laptop Rusak
Pada saat penyelidikan, polisi mendapati pelaku kerap menonton konten-konten kekerasan ekstrem di situs online. Hal itu didapati setelah penyidik menelusuri jejak digital pelaku. Rupanya pelaku sempat bedalih ke orangtuanya laptop yang pernah dipakai menonton konten kekerasan itu rusak.
Kondisi Pelaku
Pasca kejadian, pelaku sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Dengan alasan kebutuhan penyelidikan, pelaku dipindahkan perawatannya di RS Polri Kramat Jati.
Dua hari belakangan, Budi mengatakan pelaku telah melepas selang makanannya dan saat ini masih beradaptasi dengan kondisinya. Penyidik juga masih berkoordinasi dengan dokter yang menangani untuk nantinya dimintai keterangan.
Tapi yang paling utama, penyidik itu berkoordinasi dengan dokter psikisnya, sudah layak belum dia diminta keterangan, tapi dari dokter menyatakan itu belum. karena dia masih bengong, terus ngomong sebentar kadang masih kayak masih belum pulih sepenuhnya,”
terang Budi.
Belajar Secara Luring
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Nahdiana, mengatakan sampai saat ini SMA Negeri 72 Jakarta yang belajar luring sebanyak 87 persen. Selama sistem pembelajaran, sambungnya, pihaknya terus berupaya memberikan pendampingan secara langsung oleh tenaga ahli.
Sisanya itu anak-anak yang memilih daring, lalu yang sakit dan izin juga terkonfirmasi. Jadi ini akan kami terus dampingin lebih lanjut. Dan sampai saat ini anak-anak belajar juga masih didampingi, beberapa kami standby-kan psikolog, dan mobil SAPA masih ada di sana. Seperti itu,”
katanya.
Lebih lanjut Nahdiana menjelaskan, proses pendampingan itu bekerjasama dengan beberapa pihak.
Untuk penanganan trauma healing, kami tentunya di Pemrov DKI bekerjasama dengan psikolog dari DPPAPP, dari Dinkes, dari Dinas Sosial, juga dari Angkatan Laut, dari Mabes Polri,”
pungkasnya.