Memasuki hari ke-14 Ramadan 1447 Hijriah, umat Muslim kian menjaga ritme ibadah di tengah aktivitas yang kembali berjalan normal.
Informasi jadwal imsak dan waktu berbuka puasa menjadi acuan penting agar sahur tidak terlewat dan berbuka dilakukan tepat waktu sesuai ketentuan.
Mengetahui waktu imsak membantu setiap Muslim mempersiapkan diri sebelum fajar menyingsing, sekaligus memastikan ibadah puasa dijalankan dengan disiplin.
Sementara itu, momen berbuka menjadi saat yang dinanti setelah seharian menahan lapar dan dahaga, sekaligus kesempatan memperbanyak doa di waktu mustajab.
Karena itu, pembaruan jadwal imsak dan buka puasa hari ke-14 Ramadan menjadi informasi yang dibutuhkan masyarakat di berbagai daerah.
Dengan panduan waktu yang akurat, rangkaian ibadah dapat dijalankan lebih tertib, khusyuk, dan penuh keberkahan hingga waktu magrib tiba.
Dilansir dari laman Kemenag, Rabu, 4 Maret jadwal imsak hari ini, untuk Jakarta jatuh pukul 04:33 WIB, sedangkan waktu Subuh pukul 04:43 WIB. Untuk waktu terbit sendiri pukul 05:55 WIB.
Sholat Dhuha bisa dimulai pukul 06:22 WIB, Zuhur pukul 12:08 WIB, dan Ashar 15:08 WIB. Jam berbuka dan juga waktu Magrib pukul 18:14 WIB, sementara Isya pukul19:23 WIB.
Keutaman Sahur
Sahur memang merupakan hal yang berat bagi sebagian orang. Namun sahur memiliki banyak keutamaan loh. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari).
Adapun beberapa keutamaan sahur, antara lain.
- Sahur Waktu Mustajab untuk Berdoa
Sahur dilakukan pada malam terakhir, waktu yang dikenal sebagai waktu paling mustajab untuk berdoa. Allah SWT membuka pintu rahmat dan ampunan-Nya bagi hamba yang memohon dengan sungguh-sungguh. Dengan sahur, seorang muslim memiliki kesempatan besar untuk memperbanyak dzikir, istighfar, dan doa sebelum memasuki waktu puasa.
- Sahur Memperoleh Keberkahan
Orang yang sahur akan memperoleh keberkahan, karena makanan sahur tidak akan dihisab oleh Allah SWT. Padahal dalam aturannya, setiap apa yang kita makan akan dihisab oleh-Nya, tetapi orang yang sahur tidak.
ثلاثة لا يحاسب عليها العبد أكلة السحر وما أفطر عليه والأكل مع الإخوان
“Artinya: Ada tiga hal (makanan) di mana seorang hamba tidak akan dihisab oleh Allah swt, yaitu makanan sahur, makanan saat berbuka puasa, dan makanan yang dinikmati bersama saudara-saudara yang lain.”
- Makan sahur menjadi pembeda antara umat Muslim dengan Yahudi dan Nasrani.
Nabi Muhammad saw bersabda: فصل ما بين صيامنا وصيام أهل الكتاب أكلة السحر
“Artinya: Yang membedakan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah makan sahur.”
Terkait hadits di atas, Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan:
معناه الفارق والمميز بين صيامنا وصيامهم السحور فإنهم لا يتسحرون ونحن يستحب لنا السحور
“Artinya: Maknanya, yang menjadi pembeda dan keistimewaan antara puasa kita dan puasa mereka (Yahudi dan Nasrani) adalah sahur. Karena sesungguhnya mereka tidak sahur, sedangkan kita disunahkan untuk sahur (Syarah Muslim Imam Nawawi, juz 7, halaman 207).”
- Melatih Keikhlasan, Kesabaran, dan Kedisiplinan
Bangun sahur melatih keikhlasan dan kesabaran. Ketika seseorang rela meninggalkan kenyamanan tidur demi menjalankan sunnah Rasulullah, di situlah nilai ketaatan dan keimanan semakin kuat. Keutamaan sahur juga membentuk kedisiplinan waktu, yang sangat bermanfaat dalam menjaga konsistensi ibadah selama bulan Ramadhan.
- Sahur Bernilai Sedekah
Menyiapkan sahur untuk keluarga atau orang lain merupakan amal mulia yang bernilai sedekah. Rasulullah bersabda bahwa siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.
Bacaan Niat Puasa
Dilansir dari laman MUI Digital, menurut pendapat Mazhab Syafii, kita juga harus membiasakan diri untuk selalu berniat puasa di setiap malam bulan Ramadhan. Biasanya ini dilakukan setiap selesai shalat tarawih atau ketika makan sahur.
Adapun bacaan niat puasa Ramadhan, sebagai berikut:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”
Sementara niat puasa untuk satu bulan penuh, sebagai berikut
نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.”
