Polda Metro Jaya mendapatkan fakta baru terkait renjtetean kasus kecelakaan melibatkan taksi listrik Green SM, KRL Commuter Line, dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Polisi menyebut ada kendala teknis dari taksi listrik yang dikendarai oleh Richard Rudolf Passelima.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan sopir taksi sempat berupaya melarikan diri saat kendaraanya berhenti di pertengahan perlintasan sebidang. Namun, pintu kendaraan mendadak tidak bisa dibuka.
“Pada saat dibawa, itu kendaraan mati di perlintasan sebidang jalur kereta api. Pada saat sopir ingin keluar membuka pintu, tetapi tidak bisa, (kemudian) transmisi berpindah ke ‘parkir’,”
kata Budi, Jumat, 8 Mei 2026.
Richard tetap berupaya keluar dari taksi dengan cara menyalakan ulang kendaraannya, lalu merambat keluar dari jendela mobil.
“Sopir ini bisa keluar selamat dari kendaraan itu dibantu oleh warga sekitar melalui jendela mobil bagian sopir,”
tambah Budi.
Namun, kepolisian masih melakukan pendalaman terhadap saksi-saksi lain yang terkait dugaan penyebab gangguan teknis taksi listrik itu karena pengaruh medan magnet di lokasi kejadian.
Selain terhadap sopir taksi, penyidik juga memeriksa pihak Kepala Pusat Pengendali (Kapusdal) Daop 1 KAI perihal rangkaian terjadinya kecelakaan maut yang menyebabkan 16 orang penumpang meninggal dunia itu.
Fokus pemeriksaan kepolisian yakni mendalami sinyal peringatan yang menyebabkan KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong wanita KRL Commuter Line.
“Terkait tentang early warning system atau voice logger atau informasi yang disampaikan dari pengawas menara kepada (petugas) kereta api Argo Bromo. (Soal) sudahkah mendapat informasi ada kereta api di depan yang sedang mengalami kecelakaan dan berhenti?”
ucap Budi.
Terkait persinyalan kereta, penyidik juga telah memeriksa petugas KAI yang memberikan sinyal untuk KA Argo Bromo. Berdasarkan keterangan saksi, dirinya sempat memberikan sinyal hijau ke Argo Bromo sebelum terjadinya kecelakaan.
“Ini juga masih dilakukan pendalaman oleh Puslabfor, penyidik, serta KNKT,” ucap Budi.



