Basarnas belum membuka kembali operasi pencarian gabungan terhadap rombongan KM Arupadhatu I yang hilang kontak di perairan Selat Sunda.
Meski satu ABK, Surakman, telah teridentifikasi setelah jenazahnya ditemukan di Pulau Enggano, tim SAR masih melakukan pemantauan dan koordinasi dengan wilayah Bengkulu serta Lampung.
Sampai saat ini teman-teman dari SAR Bengkulu masih melakukan penyisiran dengan informasi yang kita berikan dengan pergeseran-pergeseran target yang mengarah ke wilayah Bengkulu dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda,”
kata Amrad saat jumpa pers, Rabu 22 September 2026.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Banten Al Amrad mengatakan, operasi pencarian gabungan sebelumnya telah berlangsung selama tujuh hari dan diperpanjang tiga hari. Setelah total 10 hari pencarian, operasi resmi dihentikan pada 17 September 2026.
Masalah pencarian ulang dan tidak, seperti yang kami sampaikan tadi, Pak. Secara aturan pencarian kami itu terlaksana selama 7 hari. Selama 7 hari kita sudah perpanjang 3 hari,”
ucap Amrad.
Selama masa pencarian, jenazah Surakman ditemukan pada 12 September 2026 di Pulau Enggano. Namun, hingga operasi berakhir, tim SAR belum menemukan tanda lain yang dapat memastikan keberadaan KM Arupadhatu I maupun tujuh orang lainnya.
Dari 3 hari pelaksanaan yang kita laksanakan, itu tidak adanya tanda-tanda korban kita temukan selain objek yang sudah disampaikan juga pada saat di lapangan bahwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan KM Arupadatu,”
terang dia.
Meski operasi pencarian telah ditutup, Basarnas tetap melakukan pemantauan melalui koordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung.
Informasi mengenai keberadaan rombongan juga terus disebarkan kepada kapal-kapal yang melintas dan masyarakat pesisir.
Jadi e-broadcast yang kita lakukan ini termasuk pemapelan itu, kami libatkan dengan VTS, termasuk stasiun radio pantai, termasuk para nelayan, termasuk para masyarakat yang di sekitar pesisir, warga pesisir pesisir di sekitar Lampung, dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda disampaikan di informasi tersebut,”
ungkapnya.
Sebelumnya, Polri memastikan jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano merupakan Surakman, ABK KM Arupadhatu I. Identifikasi dilakukan Tim DVI Pusdokkes Polri melalui pencocokan data primer, termasuk sidik jari, gigi, dan DNA keluarga.
Jenazah Mr. X teridentifikasi sebagai Surakman (selaku) ABK kapal,”
kata Kapolda Banten Irjen Hengki.
Jenazah Surakman ditemukan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, pada 12 September 2026. Jenazah tersebut ditemukan tanpa identitas sebelum kemudian menjalani proses identifikasi.
Hengki mengatakan jenazah Sukarman juga identik berdasarkan hasil tes DNA serta data antemortem yang diserahkan pihak keluarga kepada tim Dokkes Polri.
(Identifikasi) terhadap seorang mayat Mr. X yang ditemukan di Pulau Enggano, meliputi data primer yaitu dari sidik jari, gigi, dan DNA,”
ujar Hengki.
Jenazah Surakman akan diberangkatkan dari Bengkulu ke Banten melalui udara pada Kamis, 24 September 2026.
Lima jurnalis bersama tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak sejak 7 September 2026 ketika dalam perjalanan untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Dengan teridentifikasinya Surakman, masih ada tujuh orang yang belum diketahui keberadaannya.
Ketujuh orang tersebut yakni:
* M. Bagus Khoirunnas (LKBN Antara)
* Ari Basuki (Merdeka.com)
* Yudistiro (iNews.id)
* Firman Daus (Anadolu Agency)
* Donal Husni (jurnalis lepas)
* Warta (kapten/nakhoda)
* Heriyanto (pemandu)






