Festival musik Pestapora 2026 nggak cuma meninggalkan cerita soal ratusan musisi dan ramainya penonton. Gelaran musik tersebut juga disebut ikut menggerakkan aktivitas ekonomi di Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan Pestapora dan konser The Weeknd mencapai hampir Rp250 miliar. Pernyataan itu disampaikan Pramono pada Senin, 28 September 2026.
Saya mendapatkan laporan, dalam pelaksanaan Pestapora dan juga The Weeknd selama dua hari ini, ekonomi bergerak di Jakarta akibat itu hampir Rp250 miliar,”
kata Pramono.
Angka tersebut merupakan pernyataan Pramono berdasarkan laporan yang diterimanya. Jadi, angka hampir Rp250 miliar perlu dipahami sebagai perputaran atau dampak ekonomi dari rangkaian acara tersebut, bukan sebagai pendapatan Pestapora semata.
Uang Berputar, Bukan Cuma dari Tiket
Gelaran musik berskala besar punya efek ekonomi yang lebih luas daripada sekadar penjualan tiket.
Kehadiran ribuan penonton dapat ikut menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, hingga usaha yang berada di sekitar lokasi acara.
Penonton yang datang dari luar Jakarta, misalnya, membutuhkan transportasi menuju lokasi konser, tempat makan, penginapan, hingga berbagai kebutuhan lain selama berada di Ibu Kota.
Artinya, uang yang dikeluarkan penonton selama mengikuti acara bisa ikut mengalir ke berbagai sektor ekonomi di luar area pertunjukan.
Pestapora Hadirkan 330 Penampil
Pestapora 2026 digelar selama tiga hari, yakni 25–27 September 2026. Festival tersebut menghadirkan 330 penampil dalam 19 area pertunjukan.
Line-up Pestapora 2026 juga cukup beragam, mulai dari musisi lintas generasi hingga berbagai genre musik. Festival tersebut turut menghadirkan sejumlah kolaborasi khusus selama tiga hari penyelenggaraan.
Besarnya skala acara membuat mobilitas penonton ikut meningkat selama festival berlangsung.
The Weeknd Juga Gelar Konser di Jakarta
Selain Pestapora, The Weeknd juga menggelar konser di Jakarta International Stadium (JIS) pada 26–27 September 2026.
Dua gelaran besar yang berlangsung berdekatan tersebut membuat aktivitas masyarakat di Jakarta ikut meningkat, baik di sekitar lokasi acara maupun di sektor-sektor pendukung.
Dampaknya pun nggak berhenti ketika penonton masuk ke area konser. Mobilitas mereka sebelum dan sesudah acara turut menciptakan aktivitas ekonomi di berbagai tempat.
Jakarta Jadi Kota Pertunjukan
Pramono juga mengaitkan maraknya konser dan festival musik dengan posisi Jakarta sebagai kota global.
Menurutnya, penyelenggaraan pertunjukan berskala besar menunjukkan adanya kepercayaan terhadap Jakarta sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan acara internasional.
Bagi kota, semakin banyak acara besar berarti bukan cuma semakin banyak musisi dan penonton yang datang. Ada pula aktivitas ekonomi yang ikut bergerak di belakangnya.
Simpelnya, ketika ribuan orang datang untuk menonton konser atau festival, yang ikut “pesta” bukan cuma penonton dan musisi.
Transportasi, hotel, restoran, UMKM, hingga berbagai usaha pendukung juga berpotensi ikut merasakan perputaran uang dari gelaran tersebut.







