Bahkan, menurut dia, kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan fasilitas kesehatan. BEM UI juga mendapat informasi mengenai sebuah RSUD yang meminta pembangunan sumur bor untuk mendapatkan akses air bersih.
Di NTT, Athof mengatakan kondisi serupa ditemukan ketika tim mengunjungi masyarakat terdampak gempa. Selain kesulitan air bersih, warga di wilayah yang sulit dijangkau disebut masih membutuhkan tenda dan berbagai kebutuhan dasar.
Air bersih masih susah. Tenda pun juga masih terbatas. Pun juga kebutuhan dasar hidup,”
ungkapnya.
Menanggapi kondisi tersebut, BEM UI tidak hanya menyalurkan bantuan untuk kebutuhan sesaat.
Athof mengatakan pihaknya juga mengarahkan bantuan pada kebutuhan yang dapat digunakan masyarakat dalam jangka lebih panjang, salah satunya melalui pembangunan sumur bor.
Kebutuhan air bersih menjadi persoalan penting dalam pemulihan pascabencana. Di Aceh, upaya pemulihan akses air bersih juga dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan pipanisasi, sementara di NTT persoalan air bersih turut dilaporkan muncul setelah gempa.
Lebih jauh Athof, bantuan yang diberikan diupayakan tidak hanya mencukupi kebutuhan masyarakat, tetapi juga didistribusikan secara merata.
Walaupun tidak memenuhi ya, tapi mencukupi dan merata,”
tutup Athof.
BEM UI, lanjut Athof, berencana melanjutkan aksi kemanusiaan ke Kalimantan pada Oktober 2026. Selain membantu kebutuhan air bersih, mereka juga akan menyiapkan alat pelindung diri (APD) bagi relawan yang bertugas menangani kebakaran hutan dan lahan.