Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dinilai tidak hanya menghilangkan tutupan hutan dalam waktu singkat, tetapi juga merusak struktur ekosistem yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk pulih.
Peneliti sekaligus Senior Campaigner Pantau Gambut Putra Saptian mengatakan, regenerasi alami hutan yang terdampak kebakaran bahkan dapat membutuhkan waktu hingga ratusan tahun.
Kerusakan struktur hutan, hilangnya flora dan fauna, yang kemudian itu membuat regenerasi alami terhenti, lalu kemudian membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk pulih,”
kata Putra seperti dikutip Owrite, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurut Putra, kebakaran juga mengancam keberadaan tumbuhan endemik yang menjadi ciri khas suatu kawasan hutan. Spesies tersebut berpotensi ikut musnah ketika habitatnya terbakar.
Bagaimana konteks tumbuhan endemik, spesies tanaman khas di hutan tertentu pasti akan ikut musnah dan juga terbakar,”
ujarnya.
Putra menilai dampak karhutla tidak dapat hanya dilihat dari kerusakan lingkungan atau hilangnya nilai ekonomi kawasan hutan.
Di sejumlah wilayah, termasuk Papua Selatan dan Sumatera Selatan, masyarakat memiliki hubungan erat dengan alam yang terbentuk melalui berbagai aspek kehidupan.
Ia menjelaskan, hubungan tersebut mencakup kebudayaan, bahasa, interaksi sosial, hingga identitas spiritual masyarakat yang hidup di sekitar ekosistem hutan dan gambut.
Hubungan masyarakat dengan alam itu tidak hanya sebatas hubungan yang bisa dikaitkan secara ekonomistik. Tapi juga di situ terdapat resiprositas kebudayaan, bahasa, interaksi sosial, dan juga ada identitas spiritual,”
jelasnya.
Lebih jauh Putra, kerusakan ekosistem gambut akibat karhutla pada akhirnya juga dapat mengikis hubungan masyarakat dengan alam.
Ketika lingkungan tempat masyarakat bergantung mengalami kerusakan, dampaknya tidak hanya berupa hilangnya sumber pangan, tetapi juga sumber penghidupan dan bagian dari kebudayaan masyarakat.
Unsur-unsur keterikatan atau korelasi atau relasi sosial yang didapatkan antara masyarakat dan alam itu kemudian perlahan hilang,”
ucapnya.
Putra menegaskan ancaman karhutla memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan sekadar kerusakan fisik hutan. Kebakaran dapat memutus proses pemulihan ekosistem sekaligus mengganggu kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat yang bergantung pada kawasan tersebut.
Ancamannya bukan hanya kehilangan sumber pangan, akan tetapi ini akan berkaitan dengan rusaknya sumber penghidupan dan juga kebudayaan yang ada pada area ekosistem gambut yang rusak,”
tegasnya.
Menurut Putra, kondisi tersebut menunjukkan karhutla memiliki implikasi yang bersifat struktural. Kerusakan yang terjadi tidak berhenti ketika api padam, tetapi dapat berlangsung jauh lebih lama karena proses pemulihan ekosistem membutuhkan waktu panjang.
Menurut kami, kondisi yang terjadi akibat kebakaran hutan hari ini bukan hanya berkontribusi terhadap rusaknya atau kehancuran struktur hutan, melainkan juga bisa berkontribusi lebih jauh dan juga memiliki implikasi yang cukup struktural,”
tutup Putra.







