Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Megapolitan

Asap Karhutla Masuk Rumah, Epidemiolog Ungkap Cara Melindungi Bayi dan Anak yang Terancam

penggunaan masker tidak menggantikan kebutuhan untuk mengurangi paparan/berpindah ke lingkungan yang lebih bersih ketika kondisi memburuk.

Siswa berjalan di halaman sekolah sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 4 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (21/8/2026).
Siswa berjalan di halaman sekolah sebelum dimulainya kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 4 Menteng, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jumat (21/8/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/YU)

Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masuk ke dalam rumah dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi bayi dan anak-anak. 

Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup celah rumah saat asap menebal, serta menyiapkan tempat berlindung dengan kualitas udara lebih baik ketika belum memungkinkan untuk mengungsi.

Langkah paling realistis kalau tidak bisa mengungsi ya tentu batasi aktivitas di luar, terutama olahraga berat ya kemudian juga tutup celah rumah pintu jendela ventilasi saat asap tebal,”

kata Dicky, Rabu, 14 Oktoberfest 2026.

Untuk mengurangi paparan asap, masyarakat dapat memasang penghalang di bawah pintu, misalnya kain yang digulung. Frekuensi membuka dan menutup pintu juga sebaiknya dikurangi ketika asap di luar sedang tebal.

Iklan

Jika tersedia, penjernih udara dengan penyaring partikel yang sesuai dapat digunakan untuk membantu mengurangi polutan di dalam ruangan. 

Lantai dan permukaan perabot juga bisa dibersihkan menggunakan kain basah agar debu dan partikel yang mengendap tidak mudah beterbangan kembali.

Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang menambah polusi udara di dalam rumah, seperti membakar sampah, merokok, atau memasak dengan menghasilkan banyak asap di ruangan tertutup.

Dicky mengingatkan bahwa perlindungan perlu menjadi perhatian khusus bagi keluarga yang memiliki bayi dan balita karena sistem pernapasan mereka masih berkembang.

Jika asap telanjur masuk ke dalam rumah, orang tua dapat menyiapkan satu ruangan yang relatif minim asap sebagai tempat berlindung sementara bagi anak.

Kamar tidur anak bisa dimanfaatkan jika kondisinya memungkinkan, dengan tetap memastikan kualitas udara di dalamnya lebih baik dibandingkan area rumah lainnya.

Bayi dan Anak Perlu Perlindungan Khusus

Perlindungan terhadap bayi dan anak perlu diprioritaskan selama karhutla berlangsung. Orang tua sebaiknya tidak membawa anak keluar rumah jika tidak mendesak, terutama ketika kabut asap sedang pekat.

Dicky juga mengingatkan pentingnya menjaga kecukupan cairan dan asupan gizi anak. Bagi bayi yang masih menyusu, pemberian ASI perlu tetap diperhatikan sesuai kebutuhan, disertai waktu istirahat yang cukup dan pemantauan kondisi kesehatan secara berkala.

Orang tua perlu mewaspadai batuk berkepanjangan, napas cepat, mengi, atau kesulitan bernapas pada anak.

Jika terlihat tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas, bibir membiru, anak sulit minum, atau tampak sangat lemas dan sulit dibangunkan, segera cari pertolongan medis.

Pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda sampai gejala semakin berat, terutama jika bayi atau balita memiliki riwayat gangguan pernapasan.

Kapan Keluarga Harus Mengungsi?

Menutup pintu dan jendela bukan berarti rumah sepenuhnya aman dari asap. Jika asap terus masuk, kualitas udara dalam ruangan memburuk, atau kondisi kesehatan anggota keluarga terganggu, masyarakat perlu mempertimbangkan pindah ke lokasi dengan udara yang lebih bersih.

Dicky menyarankan warga memanfaatkan ruang evakuasi atau tempat berlindung dengan udara bersih yang disediakan pemerintah apabila tersedia.

Kalau memang semakin memburuk ya mau tidak mau harus mengungsi ke lokasi yang memang minim asap,”

ujarnya.

Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat dapat menggunakan respirator seperti N95 yang terpasang rapat di wajah untuk membantu menyaring partikel halus.

Namun, penggunaan masker tidak menggantikan kebutuhan untuk mengurangi paparan dan berpindah ke lingkungan yang lebih bersih ketika kondisi memburuk.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar