Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan kualitas udara di ibu kota dalam beberapa hari terakhir memburuk. Hal ini membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta meningkatkan kesiagaan layanan kesehatan.
Pramono meminta rumah sakit dan pukesmas untuk mengantisipasi warga yang membutuhkan penanganan akibat gangguan pernafasan.
Memang sekarang ini dalam 2-3 hari ini kondisi udara kita mengalami kondisi yang memburuk. Maka untuk itu, saya sudah memerintahkan kepada jajaran Dinkes, terutama rumah sakit dan juga puskesmas, pembantu puskesmas, untuk mereka bersiap diri,”
kata Pramono dikutip dari Berita Jakarta pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Pramono juga mengintruksikan agar Dinas Kesehatan (Dinkes)DKI Jakarta memastikan fasilitas kesehatan siap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak.
Iklan
367 Fasilitas Kesehatan di Jakarta Disiapkan
Ilustrasi dokter jaga di IGD Rumah Sakit. (Foto: AI).
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta memiliki 367 fasilitas kesehatan yang terdiri dari 31 rumah sakit daerah, 44 puskesmas, dan 292 puskesmas pembantu.
Pramono meminta seluruh fasilitas kesehatan tersebut memberikan pelayanan yang maksimal kepada warga yang terdampak akibat menurunnya kualitas udara di Jakarta, terutama mereka yang mengalami gangguan pernafasan.
Kesiapan ini sebagai langkah antisipasi agar masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis dapat memperoleh penanganan secara optimal di tengah memburuknya kondisi udara Jakarta.
Jakarta Punya Ratusan Pemantau Emisi
Ilustrasi cuaca berawan di Jakarta. (Foto: AI).
Selain menyiagakan fasilitas kesehatan, Pramono juga menyebut jakarta memiliki ratusan alat pemantau emisi untuk memantau kondisi udara di ibu kota.
Selain itu, pemprov juga sudah punya data pemantauan sendiri sehingga bisa memantau perkembangan kondisi udara tanpa sepenuhnya bergantung pada data yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Jakarta mempunyai pemantau untuk emisi itu jumlahnya ratusan. Sebenarnya tanpa dari BMKG saja datanya sudah ada. Penegasannya bahwa ini cuacanya memburuk,”
ungkapnya.
Berdasarkan data indeks kualitas udara (AQI⁺ US) pada Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB, kualitas udara Jakarta berada di angka 152 atau masuk kategori tidak sehat.
Polutan utama yang tercatat adalah PM2.5 dengan konsentrasi 57 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Kondisi ini perlu diwaspadai karena partikel halus PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Meski demikian, Pramono belum merinci penyebab utama memburuknya kualitas udara dalam beberapa hari terakhir maupun langkah lanjutan untuk menekan tingkat polusi.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta terus memantau kualitas udara dan kesiapan layanan kesehatan untuk mengantisipasi dampak kondisi udara terhadap kesehatan warga.