Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Megapolitan

283 Ribu Kasus ISPA Tercatat di 7 Provinsi, 63 Ribu Balita Terdampak di Tengah Karhutla

Kemenkes mencatat 283.270 kasus ISPA di tujuh provinsi hingga 14 Oktober 2026, termasuk 63.711 kasus pada anak balita.

Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026).
Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye)

Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Made Natasya Restu Dewi Pratiwi, menilai pemerintah perlu memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kementerian Kesehatan mencatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi hingga 14 Oktober 2026, termasuk 63.711 kasus pada anak berusia di bawah lima tahun atau balita.

Anak-anak, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat dengan penyakit pernapasan membutuhkan perlindungan khusus agar terhindar dari risiko komplikasi penyakit akibat asap karhutla,”

kata Made dalam keterangan tertulis yang diterima Owrite, Selasa, 20 Oktober 2026.

Made menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api.

Iklan

Pilihan EditorSyifa Fauziah

Kasus ISPA Imbas Karhutla Tembus 306 Ribu, Anak-anak Paling Rentan

Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat di wilayah terdampak memperoleh perlindungan kesehatan selama kebakaran berlangsung, terutama kelompok yang rentan terhadap dampak pencemaran udara.

Ia menekankan pentingnya penyediaan informasi mengenai risiko kesehatan, akses ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta bantuan alat pelindung diri yang memadai ketika kualitas udara memburuk.

Selain itu, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan perlu diperkuat untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan layanan selama karhutla berlangsung.

Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat terdampak dapat memperoleh penanganan kesehatan secara cepat dan sesuai kebutuhan.

Berdasarkan data Kementerian Kehutanan yang dikutip TII, luas areal karhutla di Indonesia selama Januari–Juli 2026 mencapai 202.004,30 hektare.

Angka tersebut meningkat 69 persen dibandingkan luas karhutla sepanjang 2025 yang tercatat 82.791,04 hektare.

Peningkatan luas areal kebakaran tersebut memperkuat urgensi perlindungan masyarakat, terutama di wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara akibat asap.

Dampak karhutla terhadap kesehatan perlu menjadi bagian penting dalam evaluasi penanganan bencana.

TII menilai perlindungan masyarakat harus menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan penanganan karhutla.

Pemerintah tidak cukup hanya melaporkan upaya pemadaman, tetapi juga perlu memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan, informasi risiko, dan perlindungan yang dibutuhkan selama kondisi darurat.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar