Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Medan Merdeka Selatan, kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis, 29 Oktober 2026.
Dalam aksi yang semula direncanakan menuju Istana Negara itu, mahasiswa menyuarakan tiga tuntutan rakyat (Tritura), termasuk mendesak pemerintah lebih memperhatikan masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ya hari ini kalo temen-temen media tahu hari ini belum ada satupun kebijakan pemerintah yang memperhatikan Masyarakat terdampak bencana. Kebijakan dia Cuma ngasih duit untuk memadamkan tetapi mereka gak mikirin Masyarakat yang terdampak makan apa,”
ujar Presiden Mahasiswa (Trisakti, Dhenny Ribowo kepada Owrite, Kamis, 29 Oktober 2026.
Kenapa gak dialokasikan sedangkan ketika coba dorong untuk penetapan bencana nasional artinya harus ada atensi khusus untuk Masyarakat,”
sambungnya.
Mengutip unggahan akun Instagram resmi Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti, @kepresmausakti, aksi tersebut awalnya dijadwalkan bergerak menuju Istana Negara pada pukul 10.00 WIB.
Iklan
Mahasiswa membawa Tritura yang mencakup pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional.
Selain itu, mereka menuntut pemberantasan inkompetensi pejabat negara, penghapusan rangkap jabatan pejabat publik, serta penegakan supremasi sipil.
Berdasarkan pantauan di lapangan, mahasiswa mulai berkumpul di Jalan Medan Merdeka Selatan sekitar pukul 15.55 WIB.
Massa datang dengan mengenakan jas almamater, sebagian di antaranya menggunakan mobil pikap bertuliskan “Suara Rakyat”.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan tuntutan melalui orasi dari atas mobil komando. Dhenny menyoroti kondisi masyarakat yang terdampak asap karhutla, terutama mereka yang kesulitan bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat kualitas udara yang buruk.
Ia menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman api. Menurut dia, pemerintah juga perlu memberikan perhatian terhadap kebutuhan hidup dan akses pengobatan masyarakat yang terdampak gangguan pernapasan.
Ya kalo memang gak mau penetapan bencana nasional minimal perhatikan lah masyarakat, bukan solusinya anak sekolah belajar dari rumah, terus api-nya dipadamkan itu bapaknya sama ibunya yang gak bisa kerja karena asap yang cukup pekat karena ispa dan lain-lain mereka pengobatan juga tetep bayar kok,”
tegasnya.
Mereka makan juga harus kerja, mereka gak kerja gak makan sekarang pemetintah gak melihat itu”
tutupnya.
Selain persoalan karhutla, mahasiswa membawa tuntutan yang lebih luas terkait kondisi nasional.
Mereka meminta pemerintah memulihkan sektor ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan, memberantas pejabat yang dinilai tidak kompeten, menghapus rangkap jabatan pejabat publik, serta menegakkan supremasi sipil.
Aksi juga diwarnai dengan nyanyian lagu nasional Indonesia Pusaka sambil mengibarkan sejumlah bendera.
Mahasiswa kemudian menghentikan sementara kegiatan untuk memberi kesempatan menjalankan ibadah saat azan Magrib berkumandang.
Melalui aksi tersebut, mahasiswa Trisakti berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman karhutla, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan ekonomi yang ditanggung masyarakat.
Mereka mendesak agar penanganan bencana disertai langkah nyata untuk melindungi warga yang terdampak.