“17 Agustus masih ikut upacara. Maka saya (ajukan surat) tanggal 20. Karena memang juga masih ada kegiatan-kegiatan lain, akhirnya terhitung 1 September itu waktu yang tepat,”
kata Netty ketika dikonfirmasi wartawan, Senin, 2 November.
Abdi
Sejak awal dia memutuskan bergabung dengan Korps Bhayangkara, ia ingin mengabdikan diri bukan hanya terhadap institusi, tapi juga kepada masyarakat.
Seiring dengan berjalannya waktu, Netty mengaku Polri mulai bergeser sehingga tidak lagi sesuai dengan prinsip hatinya untuk benar-benar melayani publik.
“Misal, tatanan itu tidak sesuai dengan hati, nanti istilahnya tuh (saya) cuma sakit sendiri,”
tutur dia.
Saat masih aktif, Polwan itu kerap terlibat dalam kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan rakyat. Dia aktif mengajar dan telah membina banyak kelompok masyarakat.
Pergeseran tujuan utama Polri mulai bertentangan dengan prinsip yang selama ini ia pegang teguh.
“Karena memang dua tujuan itu yang (membuat) saya masih ingin mengabdi, tujuan (Polri) untuk masyarakat, ya. Kalau (alasan) saya, Polri kadang-kadang enggak tepat kepada masyarakat. Enggak tepat sasaran,”
terang Netty.
Bumi Masih Berputar
Walaupun sudah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai pelayan masyarakat di balik seragam polisi, Netty mengaku tidak menyesal meski harus meninggalkan jabatan terakhirnya sebagai Kabagrenmin Ditreskrimum Polda Metro Jaya.
Masih banyak bentuk pengabdian yang dapat dia lakukan meski kini berstatus sipil. Pengalaman ia selama ini menjadi modal untuk pengabdian berikutnya.
“Barangkali pengabdian saya (di kepolisian) sudah cukuplah, toh sudah semua saya lalui,”
tutup dia.