Ancaman hujan berintensitas tinggi dalam durasi singkat menjadi tantangan bagi sistem pengendalian banjir di Jakarta menjelang puncak musim hujan pada Februari 2027.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko genangan apabila kapasitas sungai dan saluran drainase tidak mampu menampung lonjakan debit air.
Berdasarkan paparan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan tertinggi di Jakarta diprakirakan terjadi pada Februari 2027.
Iklan
Karakteristik hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu relatif singkat membuat kesiapan infrastruktur pengendalian banjir menjadi perhatian.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, pemerintah daerah mulai memperkuat langkah antisipasi melalui percepatan normalisasi sejumlah sungai. Pekerjaan tersebut ditargetkan terus diintensifkan hingga Desember 2026.
Pemprov DKI Jakarta akan terus melakukan normalisasi sungai-sungai yang ada, apakah itu Ciliwung, Angke, Krukut, Cakung Lama, dan sebagainya akan kita kebut,”
kata Pramono dikutip Owrite pada Jumat, 6 November 2026.
Menurut dia, percepatan pekerjaan tersebut dilakukan agar infrastruktur pengendalian banjir lebih siap sebelum memasuki periode peningkatan curah hujan pada Januari hingga Februari 2027.
Selain pembenahan fisik, sambung Pramono, Pemprov DKI juga memperkuat koordinasi antara BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Sumber Daya Air (SDA).
Koordinasi tersebut mencakup pemantauan cuaca, antisipasi genangan, hingga penanganan kondisi darurat.
Jakarta Barat turut menjadi perhatian karena berdasarkan paparan prakiraan cuaca berpotensi menghadapi curah hujan tinggi. Pembenahan Kali Angke dan Cengkareng Drain pun terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pengendalian banjir,”