Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan Polri telah menetapkan 83 orang sebagai tersangka dari 86 kasus pembakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2025.
Sebagian besar modus para pelaku untuk perluasan lahan perkebunan. Hal itu disampaikannya saat menerima audiensi Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni di Rupatama Mabes Polri, Jumat (24/10/2025).
Adapun modus operandi dari para pelaku yaitu melakukan pembakaran lahan untuk kegiatan usaha, khususnya perkebunan. Terakhir, saya menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena selain dapat merusak lingkungan, tindakan tersebut juga membahayakan kesehatan dan keselamatan banyak orang,” ungkap Sigit.
Dalam paparannya, sepanjang 2025, Polri telah melaksanakan 27.621 kegiatan sosialisasi dan 11.949 kegiatan patroli.
Lalu membangun 4.032 embung atau kanal bersama stakeholder terkait serta 1.457 menara pantau di beberapa wilayah rawan kebakaran hutan.
Ancaman karhutla, kata Sigit tidak sebatas berdampak kerusakan lingkungan saja. Tapi segi ekonomi dan masyarakat ikut terkena imbasnya.
Dalam menghadapi ancaman karhutla yang berpotensi mengganggu stabilitas lingkungan, ekonomi, dan sosial masyarakat, Polri bersama Kementerian dan Lembaga terkait berkomitmen melakukan langkah-langkah cepat, terpadu, dan berkesinambungan,” papar Sigit.
Jenderal Polri bintang mengatakan, sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim penghujan periode September hingga November.
Sementara puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada bulan November 2025 hingga Februari 2026 dimulai dari wilayah paling barat secara bertahap. Meski demikian, beberapa titik karhutla masih berpotensi terjadi.
BMKG juga menjelaskan saat ini masih terjadi kondisi panas ekstrim di beberapa wilayah Indonesia di antaranya yang terjadi di Majalengka, Surabaya, Gorontalo, Kupang, hingga Sentani,” ujarnya.
Lanjut Sigit, pada periode Januari sampai 22 Oktober sekiranya ada 2.517 titik hotspot alias potensi terjadinya kebakaran hutan. Dimana titik yang paling rawan terjadi di Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.
Kondisi ini disebabkan oleh rendahnya curah hujan, kondisi cuaca kering, angin kencang yang menyebabkan penyebaran titik api dengan cepat serta karakteristik wilayah yang sebagian besar merupakan lahan gambut,” kata Sigit.
Kejadian karhutla tahun ini mengalami penurunan sebanyak 833 titik atau 24,8 persen dibanding tahun lalu.
Kapolri memastikan, dalam penanggulangan Karhutla, Polri bersama stakeholders terkait, termasuk Kementerian Kehutanan, telah melakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengoptimalkan penanggulangan Karhutla.
Upaya tersebut diawali dengan peningkatan kesiapsiagaan personel dan Sarpras, serta pendirian Posko Tanggap Darurat terpadu di wilayah rawan Karhutla.
Kami juga menerapkan early warning system dalam rangka monitoring dan deteksi dini terhadap potensi Karhutla melalui pemanfaatan aplikasi Geospatial Analytic Center (GAC), yang terpadu dan berkesinambungan denganaplikasi instansi lainnya seperti SiPongi (Kemenhut), Fire Danger Rating System, Himawari (BMKG), dan TMAT (KLHK),” tutupnya.



