Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) mendesak pemerintah mengusut tuntas dugaan kejahatan lingkungan, yang diduga menjadi pemicu utama terjadinya Bencana Sumatera berupa banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Koordinator Nasional Forum Wartawan Kebangsaan Raja Parlindungan Pane menilai kerusakan hutan tersebut, diakibatkan penebangan liar, dan deforestasi. Hal ini disebab oleh faktor alam, seperti hujan ekstrem dan siklon tropis Senyar.
Sumber kedua ini harus diusut tuntas. Banyak korban meninggal. Pelakunya orang, bahkan bisa korporasi,”
Raja usai Rakernas FWK di Bogor, Minggu, 30 November 2025.
Raja mengingatkan pemerintah bertanggung jawab untuk melindungi rakyat.
Ia juga menilai aparat di daerah harus mengetahui aktivitas ilegal yang menyebabkan rusaknya lingkungan.
Jangan tutup mata saat truk kayu gelondongan lewat. Periksa legal atau ilegal,”
Raja.
Sementara itu, bencana yang terjadi di tiga provinsi kini memasuki hari keenam. Begitu pula dengan Basarnas yang sudah mengevakuasi sebanyak 35.813 warga. Dari jumlah tersebut, 188 orang meninggal dunia dan 167 masih hilang.
Dalam kejadian tersebut, jembatan ambruk, jalan nasional putus, dan beberapa ruas Tol Binjai–Langsa terendam banjir. Banyak kawasan masih terisolasi karena jaringan listrik dan seluler terputus.
BNPB, BPBA, BPBD, TNI–Polri, dan tim SAR telah dikerahkan. FWK menilai untuk “tim cepat tanggap darurat harus diperbanyak.”
Di Aceh, BPBA mencatat 119.988 warga terdampak dan 20.759 mengungsi di 16 kabupaten/kota.
Di Sumatera Barat, BPBD melaporkan 9 korban meninggal di Padang, Agam, dan Pasaman Barat. Sementara di Sumatera Utara, 43 orang meninggal dan 88 hilang di 12 kabupaten/kota.
Untuk itu, Raja menegaskan penyebab bencana dari manusia ini, harus diselidiki dengan serius.
Kalau pemerintah tidak tindak pelaku perusakan alam, di mana tanggung jawab negara?”
Raja.



