Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Eliasta Meliala, menilai aparat penegak hukum Indonesia belum siap secara kapasitas dan integritas dalam menjalankan KUHP dan KUHAP yang baru ini, karena perangkat lunaknya belum lengkap.
Kalaupun perangkat lunaknya sudah ada, maka ada soal dengan sosialisasi, pemahaman, dan keterbiasaan,”
ujar Adrianus kepada owrite baru-baru ini.
Dirinya juga menyinggung terkait keterbiasaan dari aparat hukum di Indonesia. Ia menilai, aparat hukum Indonesia aneh karena masih berpikir tentang kejadian di masa lampau. Misalnya, penanganan masalah hukum di masa sebelumnya menggunakan metode tertentu, maka di era saat ini tetap menggunakan metode yang sama.
Padahal menurut Adrianus Meliala, seharusnya tidak begitu. Penanganan hal yang berkaitan dengan masalah hukum sebaiknya ditangani dengan kondisi terkini, menyesuaikan dengan situasi dan kondisi terbaru.







