Komisi V DPR RI memberikan perhatian serius terhadap insiden jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di wilayah pegunungan Maros, Sulawesi Selatan.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyampaikan sejumlah informasi awal yang diperoleh melalui koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
Menurut Lasarus, berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca di sekitar lokasi kejadian memang tidak ideal.
Saat insiden terjadi, wilayah tersebut dilaporkan diselimuti awan tebal dan memiliki karakter geografis yang cukup ekstrem.
Lasarus menjelaskan bahwa selain faktor cuaca, terdapat hambatan alam berupa pegunungan di sekitar titik jatuhnya pesawat.
Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam proses investigasi, meskipun belum dapat disimpulkan sebagai penyebab utama kecelakaan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa DPR RI tidak memiliki kewenangan untuk menyimpulkan penyebab kecelakaan pesawat. Proses tersebut sepenuhnya menjadi ranah lembaga yang berwenang secara teknis.
DPR Serahkan Investigasi kepada KNKT
Lasarus menekankan bahwa Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) harus melakukan penyelidikan secara menyeluruh, profesional, dan independen.
Ia mengingatkan agar hasil investigasi nantinya benar-benar mampu mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.
Mohon (kecelakaan) ini nanti diinvestigasi secara menyeluruh. Kita serius menangani ini, jangan sampai ada kejadian yang sama terulang kembali. KNKT harus mendalami sesuai dengan kewenangannya,”
ujar Lasarus.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI bersama Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, Kepala BMKG, Kepala BNPP/Basarnas, serta Korlantas Polri, dalam rangka evaluasi layanan infrastruktur dan transportasi selama Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 di Gedung Nusantara, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa 20 Januari 2026
Dugaan Teknis Armada Turut Disorot
Selain faktor cuaca, Lasarus mengungkapkan adanya laporan awal terkait kondisi teknis pesawat yang perlu didalami lebih lanjut oleh tim investigasi.
Informasi tersebut menjadi bagian penting yang harus diverifikasi melalui data teknis resmi.
Kami mendapatkan informasi bahwa pesawat ini mengalami kerusakan mesin beberapa waktu sebelumnya. Ada beberapa informasi yang sudah kita kumpulkan dari kejadian ini,”
urainya.
Ia menambahkan bahwa insiden ini mendapat perhatian luas, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga dari komunitas internasional.
Oleh karena itu, penanganan kasus ini dinilai sangat menentukan citra keselamatan penerbangan Indonesia di mata dunia.
Kejanggalan Rute Sebelum Hilang Kontak
Lasarus juga menyinggung adanya informasi awal mengenai perubahan arah penerbangan yang dinilai tidak sesuai dengan rute seharusnya.
Namun, ia menegaskan bahwa informasi tersebut masih bersifat awal dan harus dibuktikan melalui analisis data penerbangan.
Menurutnya, seluruh temuan harus diuji secara objektif melalui rekaman dan data teknis yang valid.
Lebih lanjut, Lasarus mewanti-wanti agar proses investigasi tidak dilakukan secara spekulatif. Ia menekankan pentingnya transparansi dan akurasi data dalam setiap tahap penyelidikan.
Kalau sudah investigasi ini tidak bisa ngarang. Ini harus berdasarkan data-data teknis dan data-data empiris yang bisa dipertanggungjawabkan sumbernya,”
jelasnya.
Ia berharap hasil investigasi KNKT nantinya dapat menjadi dasar evaluasi menyeluruh untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi udara nasional.
