Wakil Menteri Haji, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa seluruh petugas haji Indonesia harus menanggalkan latar belakang jabatan dan profesi masing-masing saat menjalankan tugas di Tanah Suci.
Menurutnya, amanah sebagai petugas haji merupakan tanggung jawab besar yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan, baik kepada jamaah maupun kepada negara.
Oleh sebab itu, apapun profesi anda apakah dosen, ASN, reporter, anchor, mungkin pejabat, mungkin pengusaha, polisi, tentara, jaksa, dan sebagainya Itu semuanya nanti hilang. Kita akan bersama-sama di Tanah Haram Itu bertugas sebagai petugas haji,”
ujar Dahnil di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Kekompakan dan Disiplin Jadi Kunci Pelayanan
Dahnil mengingatkan bahwa selama bertugas di Tanah Haram, seluruh perbedaan latar belakang harus dilebur demi satu tujuan, yakni melayani jamaah haji.
Ia menekankan pentingnya kebersamaan, kedisiplinan, serta rasa kekeluargaan di antara para petugas.
Ia juga menyampaikan bahwa proses pendidikan dan pelatihan (diklat) telah membentuk ikatan sebagai satu keluarga besar petugas haji. Para instruktur disebutnya sebagai figur orang tua dan kakak yang membimbing selama proses persiapan.
Lihat kanan kiri, lihat belakang, lihat depan. Inilah saudara-saudara anda. Ini sudah menjadi keluarga anda,”
ujarnya.
Menurut Dahnil, keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 sangat ditentukan oleh dedikasi dan kualitas kerja para petugas haji.
Oleh sebab itu, ia menitipkan amanah agar seluruh petugas mampu bekerja sama dan menjalankan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab.
Suksesnya penyelenggaraan haji 2026 ada di tangan saudara-saudara sekalian,”
katanya.
Seleksi Haji Diperketat
Sebelumnya, Dahnil juga menegaskan bahwa tidak seluruh peserta yang mengikuti pendidikan dan pelatihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 otomatis dinyatakan lolos.
Menjelang penutupan diklat, setidaknya enam peserta harus dipulangkan akibat berbagai kendala, mulai dari faktor kesehatan hingga pelanggaran disiplin.
Wamenhaj menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara objektif tanpa pandang bulu. Aspek kesehatan menjadi salah satu pertimbangan utama, terutama setelah dilakukan pemeriksaan medis lanjutan.
“Ada yang ternyata hasil MCU-nya menunjukkan penyakit jantung, bahkan ada yang harus dipasang ring. Kami tidak mungkin mengambil risiko dengan memberangkatkan mereka. Rekomendasi dokter menyatakan tidak layak, maka dengan berat hati harus dicopot,”
tambahnya.


