Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Kamis, 5 Feb 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • Cari Tahu
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • Headline
  • KPK
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Banjir
  • sumatera
  • longsor
  • Bola
  • Spill
  • BMKG
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / (Part II) Mobilisasi 4.000 ASN Jakarta ke Barak: Utopia ‘Smart ASN’ dalam Doktrin Komando
Nasional

(Part II) Mobilisasi 4.000 ASN Jakarta ke Barak: Utopia ‘Smart ASN’ dalam Doktrin Komando

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
Last updated: Februari 3, 2026 6:00 pm
Adi Briantika
Amin Suciady
Share
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) membuka Taklimat Awal Tahun saat retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Presiden Prabowo Subianto (kiri) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan) membuka Taklimat Awal Tahun saat retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026). Presiden Prabowo Subianto membuka dan memberikan arahan serta pembahasan diantaranya program makan gizi gratis hingga swasembada pangan kepada jajaran Kabinet Merah Putih dalam Taklimat Awal Tahun tersebut. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar)
SHARE

Nihil Perang, Lupa Ilmu

7 Oktober 2021, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, menghadiri Upacara Penetapan Komponen Cadangan TNI Matra Darat, di Lapangan Terbang Suparlan, Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus Kopassus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

Daftar isi Konten
  • Nihil Perang, Lupa Ilmu
  • Tidur di Tenda Bocor, Latihan Fisik Ekstrem
  • Haram Mobilisasi Sembarang
  • Cerdas yang “Kurang Smart”

Pelaksanaan tahapan pembentukan Komcad lima tahun silam dimulai dari proses pendaftaran secara sukarela (17-31)—hingga penutupan pendaftaran Komcad di Pulau Jawa, ada 10 ribu pendaftar tahapan seleksi (1-17 Juni), pelaksanaan pendidikan Latsarmil (21 Juni-18 September), serta Penetapan Komponen Cadangan (7 Oktober 2021).

Pembentukan Komcad kala itu diikuti 3.103 orang yang terdiri dari Rindam Jaya (500 orang), Rindam III/Siliwangi (500 orang), Rindam IV / Diponegoro (500 orang), Rindam V /Brawijaya (500 orang), Rindam XII /Tanjungpura (499 orang), dan Universitas Pertahanan (604 orang).

Perihal 604 kadet mahasiswa S1 Universitas Pertahanan, mereka terbagi ke dalam dua batalyon mengikuti parade upacara dan defile pasukan—Batalyon 1 berpangkat sersan kadet dari Cohort 1 dan Batalyon 2 berpangkat kopral kadet dari Cohort 2.

Meskipun Komcad sudah ada sejak 2021, rekrutmen 4.000 ASN di tahun 2026 adalah anomali baru. Bila lima tahun lalu negara menunggu siapa yang mau mendaftar secara sukarela), tahun ini negara menjemput birokrat dari meja kerjanya.

Ini pertama kalinya ada angka target spesifik 4.000 orang hanya dari satu segmen (ASN) dan satu lokasi (Jakarta). Sebelumnya, 4.000 itu biasanya kuota campuran—seperti mahasiswa, umum, pegawai—seluruh Indonesia. Berbeda dengan dulu yang menunggu siapa yang mau daftar, kali ini pendekatannya adalah top-down.

Publik juga harus paham perbedaan Diklat Bela Negara/Latsar CPNS dan Latsarmil. Latsar CPNS mungkin hanya 1-2 pekan, materinya semi-militer (baris-berbaris ringan), fokusnya pembentukan karakter PNS. Sementara Komcad ada pelatihan 3 bulan penuh. Kurikulumnya kurikulum militer, lulusannya ialah kombatan.

(Part I) Mobilisasi 4.000 ASN Jakarta ke Barak: Utopia ‘Smart ASN’ dalam Doktrin Komando

Tersimpan kekhawatiran nyata dari abdi negara. Bagi mereka, pelatihan militer bukan hal baru, namun relevansi dan urgensinya di tengah tugas pelayanan publik menjadi pertanyaan besar.

Respati (33), bukan nama sebenarnya, seorang ASN di Jakarta, blak-blakan menyuarakan keraguannya terhadap efektivitas program ini. Baginya, tugas utama ASN adalah pelayanan publik sesuai kompetensi, bukan mengangkat senjata.

Menurut aku bukan tugas ASN untuk bela negara (secara militer). Sudah ada TNI. Kalau kurang, jumlah mereka ditambah, bukan mengambil ASN. Kami pun tidak kompeten untuk berperang,”

ujar Respati, kepada owrite.

Dia bukan tanpa pengalaman. Pada 2014, ia pernah mengikuti Diklat Bela Negara wajib selama 10 hari yang menjadi syarat bagi pegawai baru di instansinya. Pengalaman jauh dari kata mendidik dan lebih terasa seperti penyiksaan fisik tanpa persiapan matang.

Itu 10 hari yang tidak akan aku ulangi lagi seumur hidup. Apalagi ini (pelatihan Komcad) 3 bulan, aku sih, tidak bersedia,”

tegas dia.

Tidur di Tenda Bocor, Latihan Fisik Ekstrem

Kondisi di kamp pelatihan Lido, Sukabumi, saat itu sangat memprihatinkan. Dengan fasilitas minim, ribuan peserta harus berbagi empat kamar mandi –sebelum disediakan kamar mandi tambahan pada hari ketiga pendidikan—, tidur di tenda bocor, dan menghadapi latihan fisik ekstrem di bawah cuaca tak menentu.

Respati juga menyoroti ketidaksesuaian antara pelatihan militer dengan kebutuhan kemampuan ASN di era modern. Baginya, pelatihan baris-berbaris dan merayap di tanah tidak memberikan nilai tambah bagi pekerjaannya sehari-hari yang mengurusi administrasi negara.

Kalau teman-teman Bea Cukai, Imigrasi, atau sipir Lapas, mungkin lebih relate. Tapi kalau aku, itu enggak terpakai juga. Misalnya ada pilihan untuk pendidikan tambahan gitu, masih banyak pilihan lain. Daripada ngabisin duit cuma buat kayak gitu, dan menurutku enggak terpakai juga,”

jelas dia.

Ia menambahkan, bahwa postur fisik dan mental mayoritas ASN di unit administratif memang tidak dibentuk untuk kebutuhan tempur.

Aku kalau mau daftar TNI/Polri juga enggak akan masuk, tinggiku kurang. Secara fisik aku tidak terbentuk untuk itu,”

tambah Respati sambil tertawa kecil.

Ya, kalaupun misalnya dilatih (jadi Komcad) cuma 3 bulan, tapi perang enggak tahu kapan, nanti pas perang sudah lupa (semua materi yang diajarkan selama pelatihan,”

sambung dia.

Ketika ditanya mengenai “umpama” sanksi bagi ASN yang menolak ikut Komcad, Respati menilai hal tersebut tidak adil jika sistem perekrutannya bersifat penunjukan sepihak (top-down), bukan sukarela. Pun terpaksa ikut, maka tiada keikhlasan.

Presiden Prabowo Subianto (kiri) menyapa jajaran Kabinet Merah Putih sebelum membuka Taklimat Awal Tahun saat retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Presiden Prabowo Subianto (kiri) menyapa jajaran Kabinet Merah Putih sebelum membuka Taklimat Awal Tahun saat retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026). Presiden Prabowo Subianto membuka dan memberikan arahan serta pembahasan diantaranya program makan gizi gratis hingga swasembada pangan kepada jajaran Kabinet Merah Putih dalam Taklimat Awal Tahun tersebut. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar)

Alih-alih sanksi, ia menyarankan pemerintah memberikan insentif atau benefit yang konkret bagi ASN yang bersedia ikut. Bukan sekadar uang saku, melainkan poin kredit untuk pengembangan karir.

Harusnya dikasih benefit. Misalnya bisa lintas instansi, jadi punya rekomendasi untuk pindah atau masuk ke portofolio Manajemen Talenta sebagai nilai plus. Itu lebih fair,”

usul Respati.

Haram Mobilisasi Sembarang

Shaka (34), bukan nama sebenarnya, seorang ASN, juga buka suara perihal rencana pemerintah. Ia menilai rencana ini sebagai langkah yang bisa diterima, asalkan pemerintah tidak salah menempatkan kompetensi para pegawai.

Saya setuju saja kalau ASN jadi Komcad. Tapi harus diperjelas dulu, Komcad dari sisi ASN itu sebagai apanya? Jangan sampai kami disuruh jadi pasukan garis depan. Itu rasanya enggak sepadan dengan kemampuan kami,”

ucap Shaka kepada owrite.

Ia menegaskan, bahwa kemampuan ASN sangat berbeda dengan tentara reguler. Sebagai seorang analis, ia merasa tidak memiliki kompetensi tempur untuk diterjunkan ke medan perang.

Namun, ASN bisa berkontribusi signifikan di sektor administrasi, logistik, atau manajemen kebencanaan yang sesuai dengan bidang masing-masing.

Kalau disuruh jadi tentara garis depan, skill-nya enggak masuk. Kami planga-plongo nanti di depan,”

sambung Shaka sambil berkelakar.

Ihwal kesediaan meninggalkan pekerjaan kantor selama berbulan-bulan demi pelatihan, Shaka menyoroti aspek kesejahteraan sebagai kunci utama.

Baginya, tugas bela negara tidak boleh merugikan hak-hak finansial pegawai: segala hak sebagai ASN, di antaranya remunerasi, tidak dikurangi. Bagus jika pemerintah bisa menambahkan insentif tambahan lantaran mengikuti pelatihan.

Namun, ia mengakui adanya dilema bagi ASN yang sudah berkeluarga. Penugasan jangka panjang, apalagi jika harus dimutasi ke wilayah jauh seperti Indonesia Timur atau IKN, misalnya, dalam skema batalyon teritorial, menjadi momok tersendiri.

Kalau yang sudah berkeluarga, sepertinya enggak ada yang siap (kalau harus dimutasi jauh). Kecuali, pulang-pulang dari pelatihan Komcad langsung naik jabatan jadi Eselon IV atau Eselon III, mungkin ada yang mau,”

tambah Shaka realistis.

Dia menyadari posisi ASN yang terikat sumpah jabatan. Jika Surat Keputusan penugasan sudah turun, ruang untuk menolak sangatlah sempit.

Kalau sudah ada surat tugas, sebagai ASN, tidak bisa menolak. Tapi sebagai manusia, kami minta kebijaksanaan. Misalnya ada orang tua sakit atau kendala keluarga, mohon ada keringanan. Jangan serta-merta yang enggak bisa ikut langsung dimutasi jauh atau diturunkan jabatannya,”

harap Shaka.

Shaka menegaskan satu hal: menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme ASN demi Indonesia tak perlu serta-merta jadi Komcad.

Komcat itu biar menjadi pilihan kalau memang dia merasa ingin bergabung,”

ujar Shaka.

Program yang memakan anggaran besar ini–untuk makan, uang saku, seragam, dan operasional lain–dinilai tidak relevan dengan visi reformasi birokrasi dan konsep “Smart ASN” yang digadang-gadang pemerintah.

Cerdas yang “Kurang Smart”

Direktur Eksekutif The Indonesian Institute Adinda Tenriangke Muchtar, menilai kebijakan ini sebagai langkah yang salah prioritas. Problem utama birokrasi Indonesia saat ini bukanlah kurangnya jiwa korsa militer, melainkan defisit transparansi, akuntabilitas, dan kompetensi digital.

Pengiriman 4.000 ASN ke barak militer untuk latihan fisik dan baris-berbaris itu tidak relevan untuk peningkatan kapasitas ASN. Kalau perhatiannya meningkatkan nasionalisme dan cinta Tanah Air, itu bisa ‘diintervensi’ lewat program orientasi, bisa mengundang TNI,” 

jelas Adinda kepada owrite.

Ia menyarankan pemerintah kembali ke “jalan sipil”. Pembinaan wawasan kebangsaan bisa  dilakukan dengan, misalnya, dengan memberikan materi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), melibatkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Kementerian Pendidikan; ada sesi praktis untuk kerja kelompok dan kerja kreatif. Jadi ASN tidak perlu baris-berbaris sebagai calon kombatan. 

Alih-alih melatih kepatuhan ala militer, Smart ASN seharusnya dibangun di atas pilar literasi digital, e-government, dan open government. Pemerintah dapat memperkuat penerapan visi dan misi Smart ASN.

Artinya sebagai pelayan publik, pemerintah wajib memberikan pemahaman asas umum pemerintahan yang baik, pelayanan masyarakat yang berkualitas, transparan, akuntabel, inklusif. Seharusnya, Adinda melanjutkan, pembobotan ada dalam konteks kemampuan literasi digital dan partisipasi publik. 

Ia menyarankan anggaran besar tersebut dialihkan untuk pelatihan teknis yang lebih bermakna, seperti pemetaan pemangku kepentingan, penanganan komplain publik, atau manajemen data kependudukan.

3 bulan itu bisa jadi sia-sia kalau output dan outcome-nya tidak jelas. Dampaknya juga seperti apa? Bagaimana cara mengukurnya? Standar seperti apa yang diharapkan untuk menunjukkan kecintaan kepada Tanah Air?”

tutur Adinda.

Dari sisi tata kelola anggaran pelatihan ini dianggap bermasalah di tengah narasi efisiensi yang sering pemerintah gembar-gemborkan. Adinda mengingatkan peran Dewan Perwakilan Rakyat untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap penggunaan uang pajak rakyat.

Bahkan publik pun dapat bertanya perihal alokasi anggaran Kementerian Pertahanan “yang cenderung besar dan stabil”, sementara kementerian dan lembaga lain sering mengalami pemotongan uang demi efisiensi. Maka jangan ada privilese terhadap Kementerian Pertahanan.

Kemudian, kekhawatiran terbesar TII adalah dampak jangka panjang terhadap pola pikir birokrat. Jika ASN dididik dengan doktrin militer yang top-down dan berbasis komando, ruang demokratis dalam perumusan kebijakan publik berisiko menyempit.

Partisipasi publik jadi tidak diindahkan karena perspektif pendekatan militer. Bisa jadi mungkin bukan kekerasan, tapi tidak ada ruang yang demokratis dalam proses kebijakan,”

jelas Adinda.

Pelatihan ASN jadi Komcad bakal dimulai dua bulan ke depan. Kepala Biro Humas dan Infohan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi hal tersebut.

Untuk rencana ke depan, pelatihan Komcad ASN direncanakan dimulai pada April, dengan sasaran ASN dari 49 kementerian/lembaga yang berada di Jakarta,”

kata dia kepada owrite.

Adapun pengaturan teknis seperti tahapan, kuota per instansi, dan mekanisme pelaksanaan masih dalam proses koordinasi dan akan diumumkan secara resmi setelah ditetapkan.

Tag:ASNKomcadkomponen cadanganmenteri pertahananpwiRetreatSjafrie SjamsoeddinSpill
Share This Article
Email Salin Tautan Print
owrite-adi-briantika
ByAdi Briantika
Reporter
Ikuti
Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Ikuti
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

@owritedotid

BERITA TERKINI

Indeks berita
Prakiraan Cuaca
Megapolitan

Prakiraan Cuaca BMKG: Jabodetabek Berpotensi Diguyur Hujan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi prakiraan cuaca hari ini di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Menurut ramalan, wilayah Jabodetabek akan diguyur hujan pada hari ini,…

By
Syifa Fauziah
Ivan
1 Min Read
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (Sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Hukum

Pejabat Bea Cukai dan Pajak Kena OTT KPK di Kantornya, Purbaya: Ya Biarin Aja

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT), di Banjarmasin dan Jakarta. OTT ini menyasar pejabat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Bea dan Cukai (DJBC). Merespons Hal ini,…

By
Anisa Aulia
Dusep
3 Min Read
Bahan Peledak yang dipakai siswa SMPN 3 Sungai Raya Kalbar untuk meneror sekolahnya.
Nasional

Tragis, Korban Bullying Siswa SMP Kalbar Jadi Pelaku Teror Bom Molotov di Sekolahnya

Kasus pelajar terpapar paham radikalisme kembali terjadi. Kali ini melibatkan seorang siswa SMP kelas IX SMPN 3 Sungai Raya, Kalimantan Barat. Pelaku nekat meledakkan sekolahnya sendiri dengan menggunakan bom molotov.…

By
Rahmat
Dusep
2 Min Read

BERITA LAINNYA

Menteri Luar Negeri Sugiono
Nasional

Jika Tak Sesuai Arah, Indonesia Siap Tinggalkan Dewan Perdamaian

Menteri Luar Negeri Sugiono akhirnya angkat bicara terkait peluang Indonesia menarik diri…

hadi-febriansyah-owriteIvan OWRITE
By
Hadi Febriansyah
Ivan
15 jam lalu
dokumen istimewa
Nasional

(Part II) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Mata Koin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers turut mengeluarkan sikap tegas menanggapi…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
16 jam lalu
dokumen istimewa
Nasional

(Part I) RUU Disinformasi dan Propaganda Asing: ‘Vaksin’ Kedaulatan atau ‘Racun’ Narasi Tunggal Negara?

Pemerintah tengah mempersiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penanggulangan Disinformasi dan Propaganda Asing. Langkah…

owrite-adi-briantikaAmin Suciady
By
Adi Briantika
Amin Suciady
16 jam lalu
Ketua Umum Jokowi Mania Nusantara Bersatu (Jokman), Andi Azwan
Nasional

Andi Azwan Tegaskan Publik Bisa Lihat Ijazah Jokowi, Tapi…

Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) terus bergulir…

Syifa FauziahAmin Suciady
By
Syifa Fauziah
Amin Suciady
19 jam lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up