Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus, menilai adanya masalah serius dalam mekanisme seleksi pejabat negara, khususnya uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR.
Hal itu ia sampaikan setelah diumumkannya hasil Rapat Paripurna DPR pada Kamis, 19 Februari 2026, bahwa Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) tidak memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti laporan terkait proses pemilihan hakim konstitusi oleh seluruh lembaga pengusul, termasuk yang dilakukan DPR atas nama Adies Kadir.
Menurutnya, tidak ada fit and proper test saat DPR menunjuk Adies Kadir sebagai calon Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) tunggal. Fit and proper test itu untuk memastikan seseorang itu layak atau pantas untuk jabatan yang sedang ingin diisi.







