Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Nasional

Berkaca dari Kontroversi Adies Kadir, Fit and Proper Test di DPR Hanya Formalitas Tanpa Kompetisi

Tidak ada fit and proper test saat DPR menunjuk Adies Kadir sebagai calon Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) tunggal. Fit and proper test itu untuk memastikan seseorang itu layak atau pantas untuk jabatan yang sedang ingin diisi.

Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) usulan DPR Adies Kadir (tengah) menerima ucapan selamat dari anggota DPR saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta
Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) usulan DPR Adies Kadir (tengah) menerima ucapan selamat dari anggota DPR saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Rapat Paripurna DPR menyetujui Adies Kadir yang sebelumnya merupakan Wakil Ketua DPR menjadi Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) menggantikan Hakim MK Arief Hidayat yang akan pensiun pada 5 Februari mendatang. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/aww)

Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus, menilai adanya masalah serius dalam mekanisme seleksi pejabat negara, khususnya uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR. 

Hal itu ia sampaikan setelah diumumkannya hasil Rapat Paripurna DPR pada Kamis, 19 Februari 2026, bahwa Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi (MKMK) tidak memiliki kewenangan untuk menindaklanjuti laporan terkait proses pemilihan hakim konstitusi oleh seluruh lembaga pengusul, termasuk yang dilakukan DPR atas nama Adies Kadir.

Menurutnya, tidak ada fit and proper test saat DPR menunjuk Adies Kadir sebagai calon Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) tunggal. Fit and proper test itu untuk memastikan seseorang itu layak atau pantas untuk jabatan yang sedang ingin diisi. 

Iklan

Kemudian kita bisa katakan terkait proses tertutup hanya tidak lebih dari 30 menit yang ada di Komisi III untuk menguji Pak Adies Kadir. Mereka menyambut Pak Adies Kadir sebagai calon hakim Konstitusi pilihan mereka. Jadi fit and proper test itu pun hanya formalitas,”

ujar Lucius kepada owrite baru-baru ini.

Menurutnya, kasus ini juga terjadi pada Inosentius Samsul yang dipilih sebagai Hakim MK oleh DPR. Lucius melihat fit and proper test pada Inosentius hanya basa basi saja. 

Sesungguhnya mereka sudah menentukan Pak Ino sebelum fit and proper test itu sebagai calon hakim Konstitusi usulan DPR. Jadi basa basi doang di Komisi III waktu itu. Dan saya kira kelemahan belakangan ini seperti itu. Fit and proper test itu hanya ajang formalitas aja,”

jelasnya.

Menurutnya fit and proper test yang sesuai aturan itu harus ada dua sampai tiga calon, sehingga ada kompetisi. Nanti para calon hakim MK akan menjelaskan mengenai visi misi mereka. Namun hal itu tidak berlaku sejak era kepemimpinan Joko Widodo (Jokowi).

Tidak pernah ada lebih dari satu nama yang dikirim untuk kemudian di fit and proper test di DPR. Jadi kecenderungan hanya mengusulkan satu nama, saya kira itu mengubah makna fit and proper test. Fit and proper test bukan lagi sebagai ajang kompetisi untuk menentukan seorang pejabat layak atau tidak, tapi ini basa basi untuk kemudian membenarkan pilihan politik dari DPR dan juga pemerintah,”

pungkasnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal