Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat kritik tajam dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Ia menilai, skema pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) justru lebih mencerminkan logika proyek ketimbang program pemenuhan gizi masyarakat.
Menurut Tiyo, dalam praktiknya Badan Gizi Nasional (BGN) membangun SPPG bersama investor. Investor menanamkan modal untuk pembangunan fasilitas SPPG, sementara pemerintah melalui BGN kemudian membayar biaya sewa atau memberikan insentif kepada investor tersebut.
Yang terjadi bukan logika program, tetapi logika proyek. Investor menyumbangkan uangnya untuk membangun SPPG, lalu pemerintah melalui BGN membayar sewanya lewat skema insentif,”
ujar Tiyo., kepada owrite.
Dengan skema tersebut, ia menilai kepentingan utama dalam program MBG berpotensi bergeser. Alih-alih fokus pada pemenuhan gizi anak, program ini dinilai membuka ruang bagi investor untuk mengejar keuntungan.








