Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan pentingnya soliditas dan sinergitas antara TNI dan Polri dalam mengawal seluruh program strategis pemerintah.
Pengawalan ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pertahanan dan keamanan, yang akhirnya berimbas kepada jaminan kelancaran pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi nasional.
Dalam arahannya dalam kegiatan Buka Puasa Bersama TNI-Polri 2026 di Lapangan Bhayangkara, Sigit memaparkan bahwa presiden saat ini tengah gencar mendorong berbagai program prioritas, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia hingga kemandirian bangsa di berbagai sektor.
Sigit menjelaskan pemerintah menaruh perhatian besar pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan hilirisasi industri guna membuka lapangan pekerjaan baru.
Beberapa sektor hilirisasi yang tengah diakselerasi seperti pembangunan di bidang bauksit, otomotif, serta industri lain.
Selain itu, pemerintah juga perlahan mewujudkan kemandirian di bidang pangan dan energi. Untuk memperkuat ekonomi di tingkat bawah, pemerintah akan segera meluncurkan program Desa Nelayan dan Koperasi Merah Putih.
Kemudian, perihal kemandirian energi, pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan lifting sumur migas baru dan pengelolaan sumur tua, tapi juga transisi menuju energi baru terbarukan.
Di satu sisi bagaimana kami terus mendorong tanaman tebu, ubi, untuk bisa dijadikan pengganti dari bensin dengan energi terbarukan. Demikian juga jagung, sawit, yang bisa dikelola menjadi B40, B50, B100 dan itu bisa menggantikan kebutuhan solar dari energi fosil,”
kata Sigit, Rabu, 11 Maret 2026.
Guna memastikan seluruh program masa depan tersebut berjalan lancar, Sigit menegaskan TNI dan Polri berkewajiban mutlak untuk mengawal dan mengamankan pelaksanaannya.
Stabilitas keamanan yang terjaga akan berdampak langsung pada masuknya aliran investasi dari dalam dan luar negeri.
Oleh karena itu, saya selalu mengingatkan pentingnya soliditas TNI dan Polri untuk mengawal berbagai macam program. Menjaga agar stabilitas pertahanan dan keamanan ini betul-betul bisa kami jaga di bumi Indonesia,”
ucap Sigit.
Lebih lanjut, Kapolri mengingatkan kembali sejarah kelam bangsa Indonesia yang pernah dijajah selama 350 tahun akibat politik adu domba atau devide et impera.
Keberagaman suku bangsa negara ini harus dijaga agar tidak kembali dihasut dan dipecah belah, yang mengakibatkan kemunduran bangsa.
Jenderal bintang empat itu meneruskan pesan yang berulang kali disampaikan oleh presiden selaku Panglima Tertinggi.
Presiden mengamanatkan agar TNI dan Polri yang sama-sama lahir dari kancah perjuangan kemerdekaan, harus selalu bersatu, kompak, dan bersinergi.
Beliau selalu sampaikan, TNI harus jadi TNI rakyat, Polri harus jadi polisi rakyat. Itu berkali-kali beliau sampaikan dan itu menjadi amanah dari Panglima Tertinggi,”
ujar dia.
Karena begitu kami sudah bersumpah, maka kami menjadi milik negara dan menjadi bagian yang harus menjaga dan menjalankan amanah dan sumpah tersebut,”
lanjut Sigit.

