Menjelang perayaan Idul Fitri, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI) Tulus Abadi menekankan peran jalan tol kini sangat vital, terutama setelah terintegrasinya Tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatera.
Pada mudik Lebaran kali ini, diperkirakan ada 3,67 juta kendaraan yang melintasi ruas tol Jakarta-Cikampek menuju arah timur. Secara nasional, Kementerian Perhubungan memprediksi ada 144 juta perjalanan. Ini angka yang sangat dahsyat,”
kata Tulus kepada owrite, Rabu, 11 Maret 2026.
Guna melayani lonjakan volume kendaraan, Tulus mengapresiasi upaya optimal yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), serta Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Ia menyebut pemerintah telah menerapkan langkah menyeluruh demi memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Beberapa tindakan krusial yang harus dijamin dalam SPM antara lain memastikan tidak ada jalan berlubang akibat cuaca ekstrem, menghentikan seluruh proyek perbaikan jalan pada H-10 Lebaran, serta menambah alat pembaca kartu di gerbang tol untuk mempercepat transaksi. Selain itu, BUJT juga diwanti-wanti untuk terus menyosialisasikan pentingnya kecukupan saldo tol elektronik kepada para pemudik.
Kemudian, Tulus menjelaskan pemenuhan SPM saja belum cukup untuk menciptakan mudik yang aman. Diperlukan intervensi berupa rekayasa lalu lintas dari Kementerian Perhubungan dan Korlantas Polri, seperti sistem contra flow (lawan arus), one way (satu arah), maupun sistem ganjil-genap.
Meski rekayasa ini dinilai memiliki risiko tinggi dari segi keselamatan, Tulus memandang skenario lalu lintas itu sebagai pilihan sulit yang mutlak dilakukan demi menghindari kemacetan horor. Publik tidak ingin tragedi di pintu tol Brebes Timur (Brexit) pada 2017 yang merenggut korban jiwa kembali terulang.
Jika rekayasa lalu lintas tidak dilakukan, potensi kelumpuhan total (arus lalu lintas) sangat besar, apalagi saat 3,6 juta kendaraan keluar dari Jabodetabek secara bersamaan,”
ujar dia.
Untuk memitigasi risiko dan demi keselamatan pengguna jalan, ia menyarankan pemberlakuan contra flow dibatasi pada jarak pendek, sekira 30-40 kilometer. Selain itu, ia juga menyoroti kebijakan pembatasan operasional angkutan barang bersumbu tiga ke atas selama 16 hari.
Meski kerap diprotes oleh pengusaha angkutan, Tulus menilai kebijakan ini sangat rasional. Ia juga mengimbau masyarakat tidak panik terhadap potensi kenaikan harga bahan pokok, karena angkutan logistik pangan dan BBM mendapat pengecualian dari aturan tersebut.
Hal lain yang juga vital ialah keandalan Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) atau rest area. Tulus meminta pengelola rest area menjamin ketersediaan lahan parkir, toilet, tempat ibadah, SPBU, dan pasokan makanan.
Lalu, seiring dengan meningkatnya penggunaan mobil listrik, kehadiran Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang kini mencapai 1.515 unit di seluruh Indonesia juga harus dioptimalkan.
Selain itu, dia pun mengingatkan para pemudik untuk bijak mengatur waktu saat singgah di rest area.
Sebab sering terjadi penumpukan pemudik di rest area, sehingga berdampak serius (kemacetan) pada trafik di dalam jalan tol,”
tegas dia.
Seluruh strategi dan kebijakan yang ada sekarang ini membutuhkan konsistensi penegakan hukum di lapangan, serta kerja sama dari masyarakat. Ia menyayangkan masih sering ditemukannya truk Over Dimension Over Load (ODOL) yang nekat menerobos masuk ke jalan tol saat periode mudik.
Puncak dari keberhasilan mudik yang andal dan humanis adalah keselamatan yang tidak bisa dikompromikan. Spirit ini harus tertanam kuat pada semua pemangku kepentingan dan para pemudik.

